6
Oct

Lentera Jiwa

   Posted by: Wei   in motivation

 

Lantera Jiwa

Lantera Jiwa

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ‘pecah kongsi’ dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan ‘power’ yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. ‘’Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.’’

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Read more… 

who moved my cheese

Post by wei
SOURCES : Kick Andy © weihongoei.com 2008 All rights reserved

5
Oct

Respons Krisis AS,Pemimpin Eropa Gelar Pertemuan

   Posted by: Wei   in options

PAKET PENYELAMATAN, Presiden AS George W Bush menandatangani Undang-Undang Paket Penyelamatan Sistem Finansial di Gedung Putih, Washington, kemarin. 

PARIS (SINDO) – Para pemimpin Eropa kemarin memulai pertemuan di Paris, Prancis, untuk membahas strategi dalam merespons krisis keuangan di Amerika Serikat (AS).

Pertemuan itu antara lain diikuti Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, Perdana Menteri (PM) Inggris Gordon Brown, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan PM Italia Silvio Berlusconi. Pertemuan berlangsung beberapa saat setelah Presiden AS George W Bush menandatangani Undang-Undang Paket Penyelamatan Sistem Finansial AS senilai USD700 miliar. 

Sejumlah kalangan menduga Pertemuan Paris akan membahas lebih jauh mengenai rencana pemberian dana talangan (bailout) dan reformasi aturan transparansi. Hingga kemarin negaranegara di Eropa masih berbeda pendapat mengenai kemungkinan penggunaan mekanisme bailout untuk menyelamatkan sistem keuangan. Jerman dengan tegas menolak rencana bailout. 

Menteri Ekonomi Jerman Michael Glos mengingatkan para bankir agar menggunakan dananya sendiri dan tidak berharap bantuan keuangan dari pemerintah. Di lain pihak, Menteri Keuangan Prancis Christine Lagarde yang sebelumnya mengusulkan bailout berharap pertemuan itu akan meningkatkan kerja sama para pemilik modal. Lagarde menyambut baik keputusan Kongres AS yang menyetujui bailout. 

”Bailout merupakan kabar baik bagi bisnis perbankan, institusi keuangan, dan pasar,” katanya di Paris kemarin. Sebelum meninggalkan London PM Inggris Gordon Brown mengajak para pemimpin Eropa mengeluarkan dana sekitar USD21 miliar atau 15 miliar euro.Menurut Brown, dana itu akan disalurkan kepada bisnis skala kecil yang kesulitan mendapatkan likuiditas. Dengan demikian, perusahaan kecil tetap mampu bertahan di tengah situasi ekonomi yang buruk. 

”Kita harus membantu bisnis kecil agar mereka dapat bertahan dalam keadaan ekonomi yang makin buruk,” ujarnya. Brown juga menyerukan agar semua negara bekerja sama dalam memperbaiki sistem global.Dia mengajak para pemimpin Eropa menggelar pertemuan secara reguler untuk membahas masalah ini. 

Sebelum mengikuti pertemuan tingkat tinggi, Sarkozy mengundang Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) Dominique Strauss Khan. Strauss Khan mengatakan, negara-negara Eropa bersatu dan terus berkoordinasi dengan intensif.

”Negara negara Eropa jangan bereaksi sendiri dalam menyikapi krisis finansial,”katanya. Menurut Strauss Khan, permasalahan ekonomi di Uni Eropa lebih kompleks dibandingkan AS. Dengan demikian, pertemuan antarpemimpin Eropa sangat diperlukan. ”Saya harap Sarkozy akan menyampaikan pesan itu kepada para pemimpin Eropa,”katanya. 

Puji Kongres 

Di AS, Presiden George W Bush kemarin memuji para anggota Kongres yang telah mendukung paket penyelamatan sistem finansial senilai USD700 miliar. Bush segera menandatangani Rancangan Undang-Undang (RUU) Paket Penyelamatan Sistem Finansial begitu Kongres memberikan persetujuan. 

Dalam pidato kemarin Bush mengakui kesepakatan untuk meloloskan paket itu merupakan keputusan sulit bagi para anggota Kongres, baik dari Partai Demokrat maupun Republik. ”Saya memberikan penghargaan atas kesediaan mereka bekerja lintas partai di tengah suasana menjelang pemilihan presiden,”kata Bush. 

Kesepakatan itu merupakan instrumen yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang mendera sistem finansial AS. ”Dengan mengambil langkah-langkah ini, kita dapat memulai menempatkan kembali ekonomi kita ke jalan pemulihan,”kata Bush. Kendati berjanji akan bergerak cepat untuk melaksanakan paket penyelamatan tersebut, Bush mengakui bahwa dampak kebijakan itu tidak dapat langsung dirasakan. 

”Pemerintah AS akan menjalankan penyelamatan ini dengan saksama dan berhati-hati,”ujar Bush. Kongres AS, Jumat (3/10) lalu akhirnya menyetujui paket penyelamatan sistem finansial senilai USD700 miliar. Persetujuan itu diperoleh melalui pemungutan suara dengan 263 anggota menerima,171 menolak. 

Bank sentral China berharap Undang-Undang Paket Penyelamatan Sistem Finansial AS akan menciptakan stabilitas pasar global dan mengembalikan kepercayaan investor. China berharap dapat bekerja sama dengan AS dan negara lain untuk menstabilkan pasar. ”Kita harap undang-undang itu dapat segera diimplementasikan sesegera mungkin dan mendapatkan hasil positif,” kata pejabat bank sentral China kemarin. (AP/AFP/Rtr/CNN/BBC/ andika hendra m) 

5
Oct

When smalltown USA turned on ‘Fraud Street’

   Posted by: Wei   in options

fraud streetThe planned $700bn bailout has outraged and appalled everyday Americans

It was the week that an angry Main Street finally fought back after a decade when the financial masters of Wall Street were seemingly invincible. As President George Bush looked straight into the television cameras last week and spelt out to the nation the economic peril facing America, the fury and fear were mounting in millions of homes.

‘Without immediate action by Congress, America could slip into a financial panic,’ Bush warned. He sketched out a scenario of failing banks and plunging share prices which would savage retirement plans and put millions out of work. It was a terrifying scenario. Having waged two wars that are not yet over, Bush faced the final legacy of his tumultuous two-term period in office: the possible collapse of the American economy.

But the action he was calling for stuck in the throats of the American people. The administration’s planned $700bn bail-out for the financial sector has outraged and appalled many on the country’s Main Streets. It has led to anger on the left of American politics, shocked at such aid to wealthy bankers when the millions of families losing their homes get little direct help. At the same time many on the right have expressed equal disbelief, watching in amazement as the previously free-marketeer Bush suddenly embarked on the biggest government intervention since the Great Depression.

The US media have turned on Wall Street like a pack of wolves. ‘Fraud Street,’ screamed the banner scrolling beneath the concerned features of Fox Business Network’s Liz Claman, who told viewers: ‘You know what? I think the American public deserves some answers.’ Time magazine declared that the nation’s current troubles were ‘the price of greed’. ‘Blame greed,’ echoed the Chicago Tribune

At the United Nations, an Australian reporter accosted the actor Michael Douglas during a press conference and demanded to know - with a straight face, mind you - whether he felt any responsibility for the crisis because he delivered the line ‘greed is good’ as the character Gordon Gekko in the film Wall Street. ‘Are you now saying, Gordon, that greed is not good?’ the reporter asked.

‘I’m not saying that,’ a bemused Douglas replied. ‘And my name is not Gordon. He’s a character I played 20 years ago.’

The huge bail-out plan has also fundamentally changed the battlefield of the American election, which is just five weeks away from deciding who will be the next president. The sheer scale of the economic crisis, and the enormous sums of taxpayers’ money demanded to sort it out, are the biggest game in town.

In the UK, the red mists of anger have been slower to appear but the frustration is emerging with millions of savers and shareholders in Bradford and Bingley recognising that it will become the latest high street bank to fall victim to the financial contagion that has its roots in sub-prime lending to poor American homebuyers. Gordon Brown, who had been in Washington conferring with Bush about the crisis, branded the past few years an ‘age of irresponsibility’ and demanded the banks stop behaving recklessly. Until recently, Brown and his Chancellor, Alistair Darling, had been boasting that the past decade was an era of unprecedented prosperity and stability, and the Prime Minister’s volte-face drew immediate accusations of hypocrisy from the Conservatives.

As the deadlock on Capitol Hill continued last week, it must have been painfully obvious to Brown that the consequences of failure would reverberate throughout the world financial system - and straight to the pockets of Britain’s homeowners. The cost of interbank lending on the London money markets has shot up, as shocked investors feared more banks could be at risk of going bust. Mortgage rates in the UK quickly followed, leaving thousands of homeowners struggling to find affordable finance.

Here in Britain, analysts believe the impact of the financial crisis on the real economy has only just begun to bite. But to millions of Americans, it seems as though the doomsday picture is already upon them, especially in crucial battleground states such as Ohio, Michigan and Pennsylvania, America’s former manufacturing heartland.

These are people like Ken Karasek. The 47-year-old union organiser in the city of Wilkes-Barre has lived all his life among the hardscrabble towns of eastern Pennsylvania. He has seen factory after factory close and jobs move overseas. He feels that the economic crisis of the past year has merely brought the rest of America up to speed with what has happened in his home patch for the past three decades, and he is angry that the government has been so quick to bail out Wall Street with hundreds of billions. ‘It disgusts me. I have seen huge plants close down all over this area. I have seen good union jobs go and get replaced by service jobs, like McDonalds or Wendy’s. Now we give all this money to Wall Street just like that?’ he protested.

The panic around the economy has infected the political system, upending traditional alliances, pushing Democrats closer to Bush’s plan and Republicans further away. It has created ructions in the race between Barack Obama and John McCain, seeing a dangerous game of political brinksmanship that ended with McCain suspending his campaign and rushing back to Washington.

The events which led to that astonishing twist began at 8.30am on Wednesday. Obama had placed the call to McCain, reaching out with the idea that the two rival candidates could draft a common statement on the financial crisis gripping America. Such a move was far from altruistic. A Washington Post poll that morning showed Obama opening up a nine-point lead in the race. The poll was perhaps the strongest sign that voters were beginning to decisively break for the Democrats. By reaching out to McCain across party divides, Obama could stamp his ownership on the economic issue and also appear as a unifying president-in-waiting.

McCain finally returned the call at 2.30pm that afternoon. The two men agreed in principle to a joint statement and McCain mentioned he was thinking of returning to Washington to address the crisis. He also suggested suspending Friday night’s first televised presidential debate. Obama, apparently, assumed McCain was not serious - but he misjudged his opponent. A few minutes later, McCain called a press conference, suspended his campaign and said he was heading back to the capital.

It was a high-stakes move, dictated by political needs of the moment. It showed leadership and his maverick streak that is always popular with swing voters, as McCain also struck a new populist tone, railing against the freewheeling excesses of the wealthy bankers who had caused the mess. But the plan had a huge risk, not least due to McCain’s long record of supporting deregulation and his close ties to big business. Voters are unlikely to see McCain as a convincing populist. ‘He has an uphill fight to persuade people that this is what he believes,’ said Professor Rogers Smith, a political scientist at the University of Pennsylvania.

Instead of following his lead, the Democrats slammed McCain for interfering in something about which he knew nothing. He returned to Washington, leading a train of reporters in his wake, though he had no meaningful appointments scheduled there. Bush himself rescued McCain, inviting him and Obama to a White House meeting which caused gridlock in Washington as competing motorcades darted around the White House. As predicted, it also derailed the bail-out plan, producing only partisan rancour. At one stage a frustrated Bush said: ‘If money isn’t loosened up, this sucker could go down.’ But even such frank language from the most powerful man in the world could not secure agreement.

Suddenly Republican politicians broke away from the plan, leaving only Democrats still willing to work on it. In an astonishing scene, Treasury Secretary Hank Paulson walked into a room where top Democrats were meeting. He got down on one knee before Speaker Nancy Pelosi and begged Democrats not to ‘blow up’ the deal. Pelosi and other Democrats furiously told Paulson that they blamed Republicans for the mess. ‘I know, I know,’ Paulson replied.

By Friday the meetings had begun again, seeking to rescue some of the plan or come up with a better alternative. But by that time the huge Washington Mutual bank had failed overnight, the biggest such event in US history - though even such a momentous collapse was relegated to almost an afterthought on the morning TV news shows. Bush again appeared before the TV cameras, vowing that a bail-out plan would be passed but offering nothing concrete as to what or when. The political theatre took on a rare tinge of humour when Gawker, the Manhattan media gossip website, declared Paulson a ‘hotty’ after digging up an old photo of him standing bare-chested on a beach brandishing a large fish. ‘Look at that chest,’ Gawker gushed. ‘The power of Paulson, indeed… Hank can bail us out any time.’

But in Wilkes-Barre, Ken Karasek and others at a rally for Obama’s running mate, Joe Biden, were not interested in Hank the Hunk’s manly musculature - they were just furious at being asked to pay for his extraordinary proposal.

Retired nurse Betty Daniels, wearing a baseball cap emblazoned with the words ‘Jesus is my boss’, was furious at the bail-out. ‘I feel angry. People are losing their homes. They are barely making enough money to feed their families. I would like to see that money go to those people, not banks who just wasted it,’ she said.

In an already distressed area such as Wilkes-Barre the impact of the economic crisis has been profound. Over the past year more businesses have closed and many homes have been lost as the mortgage crisis has reached out and cast people out of their houses.

When Biden took to the stage in front of the small crowd, he dished out lashings of angry politics which struck a chord with many of those present. Biden attacked Wall Street executives and a culture in Washington that had been too friendly to big business. ‘The wealthy and the powerful have a seat at the table and everybody else is on the menu,’ he said.

There were echoes of that populist mood in the UK, where the Archbishops of Canterbury and York intervened in the debate, describing City speculators as asset strippers and bank robbers. Only a few months ago the churchmen would have been ridiculed for their outbursts, but now there were even some in the Square Mile prepared to admit they have a point. Investment banker John Reynolds, chairman of the Ethical Investment Advisory Group (see right) said: ‘It is easy to see how abusive market practices have developed, harder to see why they have been allowed to grow unchecked by regulators. To avoid repeating the mistakes we need regulators to be more interested in understanding markets and politicians to be less in awe of money and less influenced by the seemingly munificent gestures of large companies seeking to show that they aren’t just greedy bastards - when in fact they are.’

The financial crisis has called into question a whole philosophy on both sides of the Atlantic: the so-called ‘Anglo-Saxon model’ of liberal capitalism which has dominated the US and the UK economies for 30 years, now with disastrous results.

Even Irwin Stelzer, Rupert Murdoch’s economic adviser, and arch-defender of free markets, admitted: ‘The day when that engine of capitalism, the financial market, will be allowed to operate more or less unimpeded by government, has passed.’ Veteran investor George Soros has argued that we are suffering the after-effects of a ’super bubble’ fuelled by decades of deregulation and hands-off economic management - and it is time for the political tide to turn.

The financial markets’ extraordinary ascendancy can be traced back to the Ronald Reagan-Margaret Thatcher era of the 1980s. They slashed controls on markets and set finance free. In 1986, a whole series of rules and restraints were abolished in one fell swoop, the ‘Big Bang’. For consumers up and down Britain, the liberation of the financial markets made it much easier to borrow. The days of queuing anxiously to see the bank manager, to persuade him to give the nod to a mortgage, or agree to an overdraft, were over. Owning shares was no longer the preserve of the wealthy few, sauntering to their brokers after lunch in a London club.

When the Berlin Wall fell in 1989, exposing the shattered state of the centrally planned Soviet economy, defenders of market freedom felt vindicated. It was, said one darling of the free-marketeers, Francis Fukuyama, ‘the end of history’ because the Cold War was over and the power of the market had triumphed.

During his decade as Chancellor, from 1997, Gordon Brown worked hard to keep the City on side, boasting of its competitiveness, and nurturing it with ‘light-touch’ regulation. But with the crisis-hit banks now forced into pleading for charity from the state, many observers are arguing that the financial firms have surrendered their right to demand an easy ride. One stunned City veteran trying to absorb the magnitude of Paulson’s plan said: ‘We’ve just turned the clock back on 25 years of Neanderthal capitalism.’

Already, the Treasury and the Federal Reserve are busily drawing up plans to tighten the rules on the level of assets banks must hold to secure their loans; and to ensure that financial regulators from different countries keep in closer contact. French President Nicolas Sarkozy has called for a global summit in November to rebuild the whole world financial and monetary system from scratch, saying: ‘The idea that markets are always right was a mad idea.’

Even if the Paulson plan is clinched without further delay, there is no hope of an imminent recovery either in the US or the UK. The pain for ordinary homeowners on Main Street USA is already being felt, and in Britain unemployment is rising quickly, and consumers are tightening their belts. Rosebys, the home furnishing chain, became the latest casualty in the retail sector on Friday, when it collapsed into administration, leaving its 2,000 staff uncertain about their future.

‘Folks, it’s not just finance,’ Citigroup economist Steven Wieting warned the world. ‘The recession bus left the station earlier this year.’

Additional reporting by James Doran, Elana Schor and Lisa Bachelor

Post by wei
SOURCES : guardian.co.uk » © weihongoei.com 2008 All rights reserved

5
Oct

Runtuhnya Reputasi Bank Sentral AS

   Posted by: Wei   in options

Federal reserve bank

Minggu, 5 Oktober 2008 

 

Mengapa Lehman Brothers dibiarkan bangkrut dan kemudian menjadi episentrum ledakan sektor keuangan yang masih menggoyang sampai sekarang? Rumor kemudian merebak bahwa Lehman dibiarkan bangkrut karena pendukung Partai Demokrat.

Ini hanya sebuah riak yang tidak signifikan. Di balik ledakan keuangan itu, ada cerita horor yang membuat kita mungkin terheran-heran melihat perangai para pelaku sektor keuangan AS.

Satu argumen yang muncul di balik pembangkrutan Lehman diutarakan oleh James Tyree, Ketua Mesirow Financial. ”Penolakan Bank Sentral AS melindungi Lehman akan memaksa perusahaan keuangan untuk mengatasi masalah sendiri,” ujarnya. Hal serupa diutarakan William Brandt Jr, Ketua Development Specialists Inc (konsultan restrukturisasi dan kebangkrutan perusahaan).

Vincent Reinhart, mantan pejabat Bank Sentral AS, mengatakan Bank Sentral memang harus mau menguji ketahanan sektor keuangan AS.

Korporasi keuangan kini seperti sedang terdakwa. Para eksekutifnya adalah penyulut bara api yang membakar perusahaan. Masalahnya, mereka menyedot dana dari para investor, kemudian menyalurkannya ke perusahaan, yang butuh pembiayaan. Korporasi menerbitkan berbagai surat berharga dengan nama-nama yang aneh, yang dibeli para pemodal.

Namun, di balik itu ada sebuah proses yang mengerikan, termasuk praktik penipuan, korupsi, dan keserakahan, yang kini menjadi sasaran kecaman calon presiden dari Demokrat, Barack Obama, dan calon presiden dari Republik, John McCain.

Apakah penipuan itu? Salah satu contoh adalah penerbitan surat berharga (surat utang). Surat utang dijual di pasar, katakanlah, misalnya, oleh Lehman Brothers. Lehman kemudian mendapatkan dana. Atas keberhasilan mendapatkan dana itu, karyawan dan eksekutif Lehman mendapatkan komisi dari hasil penjualan surat berharga. Saat menyalurkan dana ke perusahaan yang butuh modal, Lehman juga dapat komisi.

Kemudian yang terjadi adalah perusahaan yang mendapatkan pembiayaan dari Lehman tak bisa membayari utang-utang yang jatuh tempo. Terjadilah yang dinamakan redeem, dengan berbagai pola dan cara. Misalnya, Lehman menerbitkan lagi surat utang baru, seperti credit default swaps (CDS) dan collateralised debt obligations (CDO). Ini adalah derivatif surat utang yang juga bertujuan meraup dana dari investor, pemilik modal, yang kemudian disalurkan lagi ke perusahaan lain yang membutuhkan modal.

Dalam transaksi jual beli CDS dan CDO ini, terjadi lagi kegagalan bayar dari perusahaan yang dibiayai. Mengapa gagal? Ini karena perusahaan yang dibiayai adalah para developer perumahan, yang sejak 2003 tak lagi mampu menjual rumah- rumahnya.

Warren Buffett, investor kaya raya AS, sudah sadar keadaan itu sehingga meminta perusahaannya, Berkshire Hathaway, menghentikan kegiatan bidang ini sejak 2003. Akan tetapi, perusahaan lain hingga 2007 masih terus melakukan redeem, artinya terjadi istilah utang diganti dengan utang yang bertumpuk.

Sebenarnya sudah ada ilmu yang mendalami soal potensi risiko, yang bisa terlihat dari catatan-catatan. Catatan ini bisa menunjukkan apakah perusahaan sudah menggali lubang kematian sendiri. Indikator seperti ini tidak diindahkan, bahkan mungkin dianggap tidak perlu. Bank Sentral AS sebenarnya berperan menghentikan praktik penggalian lubang kematian oleh korporasi keuangan AS.

Ini tidak terjadi. Malah hal sebaliknya yang terjadi. Badan Pengawas Bursa Saham AS (Securities and Exchange Commission), Departemen Keuangan AS, pun tutup mata. Mantan Menteri Keuangan AS Paul O’Neill sebenarnya sadar juga akan bahaya ini, tetapi tidak berkutik di bawah Presiden AS George W Bush, yang memiliki opini sama dengan almarhum Presiden Ronald Reagan, bahwa pasar sebaiknya jangan diatur.

Hal yang lebih mengerikan lagi, kecuali Bank Sentral AS, semua agen bank sentral menerima komisi dari lembaga keuangan yang menjadi anggotanya. Badan-badan ini pun bersaing untuk menggagalkan sejumlah peraturan keuangan, yang dianggap menghambat sepak terjang lembaga keuangan.

”Tidak ada pengawasan terpadu dari pemerintah pusat hingga di tingkat negara bagian,” kata Brian C McCormally, mantan pemimpin penegakan hukum dari Office of the Comptroller of the Currency.

Mentalkan peraturan

Bahkan, ada hal yang lebih buruk. Ada koordinasi untuk menyingkirkan peraturan. Ini terlihat dari sebuah jumpa pers bidang keuangan pada 3 Juni 2003. Saat ini sudah ada tanda- tanda jelas bahwa kucuran kredit ke sektor perumahan sudah mulai liar. Dalam jumpa pers itu malah diutarakan niat untuk mengurangi peraturan yang menjadi beban bagi perbankan.

Empat dari lima wakil badan yang bertanggung jawab soal pengaturan keuangan menyerang sebuah makalah yang membeberkan tentang pentingnya sebuah pengaturan lembaga keuangan. James Gilleran, salah satu wakil dari Office of Thrift Supervision, dibuat tidak berdaya dan kalah menghadapi empat rekannya.

Pentingnya pengaturan juga sudah lama diutarakan oleh Barney Frank dari Massachusetts. Frank adalah anggota DPR AS yang menjadi Ketua Jasa Keuangan DPR AS. Alasan soal perlunya pengaturan, menurut Frank, adalah karena lembaga keuangan telah terbawa arus bisnis dengan risiko tinggi tanpa pembatasan. Namun, ide ini, kata Frank, juga mental di tangan pemerintahan Presiden George W Bush.

”Kita harus belajar. Kita sudah mengetahui itu selama beberapa dekade. Kita harus kembali belajar dari kesalahan yang ada,” kata Senator Sherrod Brown (Demokrat, Ohio). ”Ketiadaan peraturan telah membuat kerakusan Wall Street makin menjadi-jadi,” kata Brown.

Niat yang rendah soal pengaturan bahkan menyusup hingga ke Bank Sentral AS, sebagaimana diutarakan Avery B Goodman, ahli hukum yang menangani kasus hukum sekuritas. Dia adalah lulusan doktor hukum dari University of California at Los Angeles (UCLA). Goodman juga anggota National Futures Association (NFA) dan Financial Industry Regulatory Authority (FINRA).

Menurut Goodman, sama seperti Depresi 1929, di mana Bank Sentral AS juga menjadi penyebab depresi karena kebijakan yang blunder, krisis sekarang juga terjadi akibat peran Bank Sentral AS.

Goodman mengutip sebuah pidato yang disampaikan ekonom Ben Bernanke yang ketika itu sudah menjadi pejabat di Bank Sentral AS. Pidato itu disampaikan pada ulang tahun ke-90 ekonom tenar AS, Milton Friedman, pada tahun 2002, yang meninggal pada tahun 2006. Saat itu Bernanke mengatakan, ”Izinkan saya mengakhiri pidato saya dengan menyalahgunakan status saya sebagai serang pejabat Bank Sentral AS. Saya ingin mengatakan kepada Milton: Terkait Depresi Besar. Anda benar, kami melakukan itu. Kami minta maaf. Namun, terima kasih kepada Anda, kami tidak akan melakukan itu lagi.”

Goodman mengkritik, kini ucapan Bernanke itu jelas merupakan sebuah kebohongan. Bank Sentral AS mengulangi kesalahan itu. Saat korporasi keuangan jorjoran mengucurkan kredit ke sektor perumahan yang sudah mulai gagal bayar, Bank Sentral AS malah menurunkan suku bunga dan mempertahankannya dalam waktu lama pada tingkat 1 persen.

Bank Sentral AS secara tidak langsung menyediakan dana-dana murah, yang turut menyulut spekulasi. Ini menciptakan jalan menuju Depresi Besar Jilid II, hiperinflasi babak I, dan pengulangan stagflasi parah yang terjadi pada dekade 1970-an.

Bank Sentral AS terus memasok dana ke pasar, di mana sektor keuangan sudah makin liar dengan menciptakan instrumen keuangan yang kompleks dan amat berisiko, termasuk subprime mortgage, Option-ARM mortgage, Alt-A, dan lainnya.

Lebih buruk lagi, Bank Sentral AS memasok pinjaman. Bank Sentral AS meminjamkan dana secara langsung kepada korporasi AS dengan jaminan yang tidak setimpal. Bank Sentral AS telah mengucurkan dana sebesar 777 miliar dollar AS dengan jaminan yang hanya senilai 171 miliar dollar AS.

Keburukan Bank Sentral AS terbongkar ketika Lehman Brothers mendapatkan pinjaman 10 miliar dollar AS dari Bank Sentral AS Cabang New York, yang dipimpin Timothy Geithner. Padahal, saat itu semua orang, termasuk Geithner, tahu bahwa Lehman sudah insolvent (tidak mampu memenuhi kewajiban). (REUTERS/AP/AFP/MON)

 

5
Oct

Dunia Merasa Lega untuk Sementara

   Posted by: Wei   in options

Minggu, 5 Oktober 2008

Paris, Sabtu - Para pemimpin dan pejabat negara-negara yang memiliki perekonomian besar, Sabtu (4/10), menyatakan kelegaan. Mereka menyambut tindakan Kongres AS yang menyetujui paket dana penyelamatan sektor keuangan AS yang sedang dililit kebangkrutan.

Paket itu harus disetujui Parlemen AS karena dana itu akan diambil dari anggaran Pemerintah AS, yang antara lain ditutup dari pajak-pajak rakyat AS. Para pemimpin dunia menyatakan tindakan AS itu sebagai bentuk pertanggungjawaban. ”Saya sangat bahagia,” kata Menteri Perekonomian Perancis Christine Lagarde.

Kelegaan ini masuk akal karena ancaman kehancuran perekonomian global relatif berkurang. Sejak kejatuhan Lehman Brothers pada pertengahan September, banyak bank di dunia yang diserbu nasabah, seperti Fortis (milik Belanda-Belgia), yang terjebak kredit macet di sektor perumahan AS.

Tali-tali bisnis lembaga keuangan AS dengan internasional dalam hal kucuran kredit pun terganggu. Salah satu contoh adalah mengeringnya fasilitas pinjaman antarbank di dunia.

Suku bunga Libor (The London interbank offered rate) pada hari Jumat mencapai 5,33 persen untuk pinjaman uang antarbank dengan jangka waktu tiga bulan. Ini adalah tingkat Libor tertinggi sepanjang sejarah, sebagaimana diutarakan Asosiasi Perbankan Inggris.

Fasilitas pinjaman antarbank adalah salah satu instrumen yang memperlancar aliran keuangan perbankan dan juga berguna melancarkan transaksi dan perdagangan dunia. Pinjaman antarbank di Asia juga meningkat ke angka yang lebih tinggi dalam sembilan bulan terakhir.

Memburuk

Suku bunga pinjaman antarbank dalam denominasi dollar AS naik menjadi 4,33 persen, tertinggi sejak Januari 2008.

Ekonom AS peraih Hadiah Nobel Ekonomi 2001, Joseph E Stiglitz, mengatakan, ia tidak mengkhawatirkan kerugian para investor di bursa. Hal yang paling dia khawatirkan adalah merembetnya krisis keuangan di AS ke sektor perbankan berupa kemacetan aliran pembiayaan ke sektor bisnis. Ini akan berakibat pada terhentinya aktivitas bisnis di sektor riil yang bisa berujung pada pengurangan tenaga kerja.

”Sekarang persoalan di sektor keuangan seperti menggelinding ke arah lebih buruk, yang tampaknya sulit dihentikan,” kata Greg Gibbs, Direktur Strategi Valuta Asing di ABN AMRO Holding NV di Sydney, Sabtu.

Gibbs mengatakan, perjuangan keras menuju dicapainya kesepakatan dana talangan di AS makin memperburuk keadaan.

Kini diharapkan aliran pinjaman antarbank mulai cair dengan persetujuan Kongres AS itu. Ketua Komisi Uni Eropa Jose Manuel Barroso mengatakan, ”Parlemen (Kongres) AS ’telah menunjukkan tanggung jawab untuk mengatasi krisis’ yang dipicu kebangkrutan lembaga keuangan AS karena terjebak kredit macet di sektor perumahan AS dan terjebak pada aksi-aksi spekulasi di bursa saham dan uang.”

Paket dana penyelamatan sektor keuangan AS itu telah ditandatangani Presiden AS George W Bush, Jumat. Menteri Keuangan AS Henry Paulson menyatakan segera mengimplementasikan program penyelamatan sektor keuangan AS. Ini adalah sebuah paket penyelamatan ekonomi terbesar AS sejak Depresi Besar ekonomi AS tahun 1929.

China adalah salah satu yang memantau ketat paket dana penyelamatan itu, yang sebelumnya ditolak Kongres AS. ”China dan AS memiliki kepentingan bersama untuk menyelamatkan sektor keuangan,” demikian pernyataan People’s Bank of China (Bank Sentral China).

Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Sabtu, juga menunjukkan keceriaan dengan persetujuan Kongres AS itu, ”Yang akan membantu kestabilan ekonomi dunia.” Meski menyambut, PM Rudd menambahkan, masih banyak yang harus dilakukan AS dalam rangka penyelamatan ekonomi AS, yang terbesar di dunia.

Daya serap besar

Hampir bisa dikatakan, tidak ada ekonom yang memperkirakan Depresi Besar seperti tahun 1929 ditandai dengan anjloknya 80 persen indeks saham di AS dan efek domino kebangkrutan di Perancis, Inggris, dan Jerman.

Roger Altman, seorang ahli investasi dan mantan Wakil Menkeu di era pemerintahan Bill Clinton, dengan yakin mengatakan, tidak akan depresi seperti di masa lalu. Namun, hampir semua ekonom, termasuk IMF, memastikan akan terjadi resesi, setidaknya terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi secara berturut-turut dalam tiga kuartal hingga tahun 2009.

Jika ini terjadi, taruhannya cukup besar, yakni penurunan aktivitas ekonomi, yang berlanjut dengan pengurangan pekerja. Krisis di AS, yang mengimbas ke negara lain, khususnya Inggris, juga telah jadi isu politik. Kepemimpinan Partai Buruh di Inggris, di bawah Perdana Menteri Gordon Brown, sudah kehilangan popularitas.

Negara-negara lain juga waswas jika ekonomi AS tidak diselamatkan. AS adalah pemilik ekonomi terbesar di dunia, dengan nilai produksi domestik bruto sekitar 13,7 triliun dollar AS, yang merupakan pendapatan setahun dari sekitar 270 juta warga AS.

AS adalah tujuan ekspor dari berbagai negara di dunia, dengan total impor AS pada tahun 2007 sekitar 2,345 triliun dollar AS.

Presiden Bush pun merasa lega dengan persetujuan Kongres itu. Meski demikian, Presiden Bush juga mengatakan, kini bukan saatnya berpesta, tetapi segera menyelamatkan perekonomian yang juga sedang mengancam dapur warga AS.

Kolaborasi bipartisan

Kubu Demokrat adalah tokoh yang paling berjasa mendukung paket tersebut. Ketua DPR AS Nancy Pelosi (Demokrat, California) mengatakan, ”Ini adalah hasil kolaborasi terbaik bipartisan.” Sangat jarang Demokrat dan Republik mudah bersepakat soal pelolosan sebuah rancangan undang-undang.

”Kita tidak bisa bercanda sekarang ini. Ekonomi sedang dalam keadaan resesi. Keadaan akan makin buruk jika tidak ada penyelamatan,” kata John A Boehner, Ketua Kubu Republik di DPR AS.

Meski demikian, kubu Republik memberontak terhadap paket dana talangan yang diusulkan Presiden Bush (juga dari Republik). Walau berhasil diloloskan, ada 108 anggota DPR dari kubu Republik yang menolak dan hanya 91 orang DPR Republik yang menyetujui.

Harian Washington Post menyebutkan, pemberontakan Republik ini diduga didorong capres John McCain. Capres Barack Obama menuduh McCain sempat-sempatnya bermain politik dengan memanfaatkan krisis, dengan tujuan menentang dana talangan. Paket tersebut dituding warga AS sebagai penyelamatan eksekutif Wall Street yang serakah. (REUTERS/AP/AFP/MON)

Pelajaran dari Kasus Merrill Lynch dan Lehman Brothers 

Bangkrutnya Lehman Brothers dan akuisisi Merrill Lynch oleh Bank of America mengingatkan kita bahwa dengan kondisi perekonomian dunia yang tidak menentu seperti sekarang ini tidak ada satu pun pekerjaan yang bisa dianggap sebagai “secured jobs”

Saya masih ingat ketika sekitar awal tahun 2000 membaca sebuah artikel di majalah terbitan luar negeri (saya lupa entah itu BusinessWeek, Newsweek, Forbes atau Fortune) yang menceritakan betapa kerasnya usaha ribuan orang lulusan program MBA dari berbagai business schoolternama di seluruh penjuru Amerika Serikat berlomba-lomba mendapatkan pekerjaan di Wall Street, khususnya pekerjaan di investment bank terkemuka, seperti Merrill Lynch, Lehman Brothers, Goldman Sachs atau Morgan Stanley.

Selain soal gengsi (karena sebagian besar investment bank terkemuka tersebut hanya mempekerjakan lulusan terbaik), banyak yang mengincar untuk bekerja disana karena tergiur dengan tawaran gaji dan berbagai benefits luar biasa yang ditawarkan.

Banyak yang beranggapan bahwa bekerja di investment bank kelas kakap di Wall Street merupakan sebuah pilihan yang aman. Tapi dengan perkembangan yang terjadi beberapa hari terakhir ini, siapa yang menyangka bahwa Lehman Brothers bisa bangkrut? Siapa pula yang menyangka bahwa Merrill Lynch ternyata bisa diakuisisi oleh Bank of America ?

Pelajaran yang bisa dipetik dari kejadian ini hanya satu, bila anda saat ini masih bekerja sebagai employee (di perusahaan mana pun itu - apakah itu perusahaan nasional ataupun multinasional) ingatlah bahwa tidak ada satu orang pun yang bisa menjamin 100% bahwa anda akan aman berkarir seterusnya di perusahaan tersebut. Karena dengan perubahan yang sedemikian cepat dan kondisi perekonomian dunia yang makin sulit diprediksi, perusahaan paling besar sekalipun bisa saja gulung tikar minggu depan.

Bukannya bermaksud memprovokasi kalau saya katakan, jangan pernah sesekali berani memproklamirkan diri sebagai employee yang loyal kepada perusahaan, karena perusahaan tidak bisa menjamin apakah mereka juga akan bisa loyal kepada anda.

Bila performa kerja anda menurun, tidak peduli anda telah bekerja 10 tahun disitu, anda bisa saja ditendang keluar untuk kemudian digantikan dengan orang lain yang lebih muda dan bersedia menerima gaji yang lebih rendah dari anda.

Di lain pihak, perusahaan pasti juga tidak akan berani menjamin bahwa mereka akan mencetak keuntungan secara terus-menerus dan beroperasi seterusnya sampai dunia kiamat (ingat: sebelum akhirnya bangkrut, Lehman Brothers adalah perusahaan yang telah beroperasi sejak tahun 1850).

Nah, beberapa hal yang ingin saya tekankan sekali lagi adalah:

  • Dengan kondisi seperti sekarang ini, jangan pernah bersikap loyal kepada perusahaan, tapi bersikaplah loyal kepada profesi anda.
  • Cintailah bidang pekerjaan anda, terus asah dan perdalam pengetahuan anda mengenai beberapa aspek spesifik di bidang yang betul-betul anda minati, karena saat ini dalam pengamatan saya makin banyak perusahaan yang mencari seorang spesialis dibandingkan seorang generalis.
  • Jangan lupa untuk selalu membuka mata dan telinga lebar-lebar bila memang ada sebuah kesempatan untuk meningkatkan karir diluar sana .
  • Dan mungkin ini yang paling penting, kecuali anda adalah seorangpegawai negeri sipil yang bekerja di Indonesia, lupakan yang namanya “comfort zone” dan “job security” — those are totally bullshit!

Semoga apa yang saya tulis ini bisa membuka wawasan dan menyadarkan banyak orang yang mungkin sudah terlena dengan apa yang dinamakan“comfort zone” dalam bekerja.

Mungkin analogi yang paling pas untuk menggambarkan secara konkrit dari apa yang saya tulis ini adalah dengan membayangkan anda naik sebuah mobil. Ketika anda mengendarai sebuah mobil mahal dan canggih, anda tetap harus mengendarainya dengan kewaspadaan penuh, siap untuk mengerem atau memutar setir untuk menghindari lubang di jalan atau pengendara motor yang memotong jalan anda.

Anda tentunya tidak bisa berpikiran bahwa dengan mengendarai sebuah mobil mahal, maka anda akan selalu selamat karena dilindungi dengan berbagai peralatan pelindung canggih. Ada faktor utama yang menjadi faktor penentu keselamatan anda yaitu kewaspadaan.

Hal yang sama juga berlaku dalam anda bekerja sebagai employee, bayangkan saja anda bekerja menekuni karir seperti anda mengendarai mobil: nikmati perjalanan anda, tetap waspada dan jangan pernah sampai masuk kedalam “comfort zone” - alias mengantuk, karena ketika anda masuk kedalam “comfort zone” dan sesuatu yang tidak diinginkan kemudian terjadi, biasanya anda akan merasa lebih sakit — karena memang anda tidak siap dalam menghadapinya.

Have a nice day at work!

Quote of the Day: 
“Action may not always bring happiness, but there is no happiness without action.”
 
by Benjamin Disraeli

5
Oct

Selamat Pagi, Anda Kena PHK!

   Posted by: Wei   in motivation

Selamat Pagi, Anda Kena PHK! Apakah Kesuksesan Selalu Berkorelasi?
posted by: “Widyanto Duta Nugroho” 

 

Selamat Pagi, Anda Kena PHK!

Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.

Seorang Chief Executive Officer sebuah perusahaan ternama dunia hari itu datang kekantornya yang megah tepat jam 7 pagi. 

Sang pemilik perusahaan memasuki ruang kerjanya tak lama kemudian. Setelah berbasa-basi sedikit, beliau berujar;”My friend,” katanya. “Aku bangga dengan hasil kerjamu selama ini,” lanjutnya. Sang CEO tentu saja bahagia mendengar pujian bossnya itu.

“Namun,” lanjut si boss. Kali ini, hati CEO itu mulai dihinggapi tanda tanya besar. “Para stakeholders kita menginginkan untuk menggantikanmu dengan seseorang yang lebih baik…..” Saat itu juga, pagi yang cerah seakan-akan berubah menjadi gelap gulita sambil sesekali dikilati cahaya dari bunyi petir dan gelegar halilintar yang membuat jiwa bergetar. Sang CEO hanya bisa terpana. Seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.
Seandainya, berita itu tidak ditujukan kepada CEO yang sedang kita bicarakan itu. Melainkan kepada anda. What are you going to do?

Boleh jadi anda mengira bahwa percakapan diatas itu sekedar rekaan belaka.

Tapi, jika anda mengikuti perkembangan dunia bisnis internasional akhir-akhir ini; anda akan menemukan bahwa pembicaraan semacam itu sungguh-sungguh terjadi didunia nyata. ‘Korbannya’? Banyak. Mulai dari orang nomor satu di bank terkemuka. Pemimpin perusahaan farmasi tercanggih. Hingga raksasa minuman berbahan dasar kopi yang aroma ketenarannya sampai kesini.

Bahasa politik boleh mengatakannya dengan halus, semisal; pensiun dini atau golden shake hand. Tetapi, dalam bahasa kita; itu tidak beda dengan tiga huruf mengerikan bernama P. Dan H. Dan K. Sounds familiar, right? Yes, that PHK.

Anda tentu masih ingat kisah tragis legendaris yang menimpa kapal pesiar Titanic yang tenggelam pada tanggal 14 April 1912. Peristiwa itu diperkirakan menelan 1,500 korban jiwa. Para ahli mempercayai bahwa faktor utama yang menyebabkan banyaknya jumlah korban jiwa bukanlah semata-mata tenggelamnya kapal tersebut, melainkan; kurangnya jumlah sekoci yang ada dikapal itu dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ada. Mereka begitu yakin bahwa Titanic tidak bisa tenggelam. Jadi, mengapa harus menyediakan sekoci? Konon, ketika perisiwa itu terjadi; sesungguhnya masih banyak waktu untuk melakukan penyelamatan. Namun, karena jumlah sekoci penyelamat hanya sedikit, hanya sebagian kecil saja yang bisa diselamatkan.

Dalam kehidupan kerja pun kita sering berpikir seperti itu. Kita begitu yakin bahwa kapal yang kita gunakan untuk mengarungi samudera dunia kerja ini tidak akan tenggelam. Sehingga kita tidak merasa penting untuk memiliki sekoci. Tetapi, berapa banyak sudah perusahaan yang gulung tikar dan kemudian tenggelam seperti halnya Titanic? Jika kita boleh berkata tanpa sensor, sesungguhnya dunia kerja kita lebih beresiko daripada Titanic. 

Apa yang terjadi pada Titanic adalah musibah bagi semua penumpang. Semua orang menghadapi masalah yang sama. Sebab; orang baik tidak ditendang keluar dari kapal. Tetapi, dalam sebuah perusahaan; sudah sering terjadi seorang karyawan ditendang keluar dari bahtera perusahaan semudah itu. Seperti peristiwa yang menimpa sang CEO diatas itu.

Jika itu bisa terjadi kepada pimpinan puncak sebuah perusahaan; maka tidak heran jika bisa dengan sangat gampangnya menimpa karyawan-karyawan dilevel lainnya. Ya. Tentu saja. Anda sudah tahu itu. Bahkan mungkin sudah banyak teman anda yang terkena PHK juga. Sayangnya, saat ini pun kita masih begitu yakinnya untuk mengatakan bahwa kita tidak akan mengalami nasib seperti itu.

Sungguh, tidak ada yang menjaminnya. Sebab, bagaimanapun juga itu bisa menimpa siapa saja. Karyawan yang jelek. Karyawan yang bagus. Karyawan dilevel manapun juga. Direktur? Sudah banyak direktur yang terkena PHK juga, bukan?

Seseorang menganggap saya ini terlampau pesimis dalam memandang masa depan pekerjaan. Saya bilang;”Ada bedanya antara sikap pesimis dengan sikap antisipatif. 

Seseorang yang pesimis, memandang dari sisi negatif, dan dia tidak melakukan apa-apa untuk mempersiapkan dirinya, kecuali memelihara perasaan was-was. Sedangkan, orang yang antisipatif, memandang sebuah resiko secara rasional dan proporsional. Lalu dia mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi sulit jika terjadi sewaktu-waktu. ”

PHK adalah resiko kita sehari-hari. Kita tidak perlu terlampau percaya diri dengan mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi pada kita. Atau sebaliknya terlalu takut jika mengalaminya. Sebab, selama kita ‘mempersiapkan diri kita untuk menghadapi kemungkinan itu,’ maka yakinlah bahwa masa depan kita akan baik-baik saja. Paling tidak, kita tidak terlampau syok, jika itu benar-benar terjadi. Dan yang lebih penting dari itu adalah; memulai mempersiapkan ’sekoci’ itu dari saat ini. Sekoci yang selalu siap digunakan jika sewaktu-waktu kita membutuhkannya.

Begitu beragamnya reaksi orang ketika terjadi PHK. Ada yang panik. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang senang alang kepalang. Ada orang yang mendapatkan ‘golden shake hand’ tetapi hatinya miris dan menghadapi dunia didepannya dengan tatapan pesimis. Ada yang mendapatkan uang pesangon sekedar sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam undang-undang; namun, memandang masa depannya dengan antusias dan optimis. Mengapa sikap mereka bisa beda begitu ya? Ternyata, orang-orang yang sudah ‘mempersiapkan’ dirinya untuk situasi sulit seperti itu lebih bisa menghadapi kenyataan itu.

Mereka melihat sisi terangnya. Dan mereka menemukan bahwa; itu bukanlah akhir dari segala-galanya.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan email dari seorang teman yang mengalami ‘perlakuan’ kurang patut diperusahaan. Menyimak kompleksnya permasalahan yang dihadapinya, tidaklah mudah untuk meresponnya. Tetapi, tepat sehari sebelum saya menerima email itu, saya bertemu dengan seorang sahabat lama.

Bagi saya, beliau bukan sekedar sahabat; melainkan juga seorang mentor.

Puncak karir beliau adalah Direktur Pengembangan Bisnis pada sebuah perusahaan multinasional dengan pengalaman kerja 20 tahun.

Dia bangga dengan pencapaiannya. Dan dia tahu kualitas dirinya yang tinggi.

Namun, suatu ketika perusahaan memintanya untuk menduduki sebuah jabatan lain. Jabatan itu levelnya bukan Direktur, melainkan manager biasa. Jelas, orang ini diturunkan pangkatnya. Dan yang lebih menarik lagi adalah: posisi baru yang harus dipegangnya adalah sebuah posisi yang sebelumnya berada langsung dibawah kepemimpinannya. Sedangkan posisi direktur kini diduduki oleh orang lain. Itu terjadi tahun 2002. Dan orang itu - dengan segala kualitas diri yang dimilikinya - ketika bertemu dengan saya kemarin; menjadi orang yang lebih berhasil dari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa emas tetaplah emas, meskipun terbenam dalam tanah berlumpur.

Saya sendiri mempunyai prinsip pribadi yang berbunyi; ‘bersiap-siap seolah akan terkena phk besok pagi.’ Dengan prinsip itu, sedari sekarang saya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Saya belajar banyak hal hari ini, supaya besok bisa menjaga diri. Jika besok pagi saya mendapatkan phk itu, sekurang-kurangnya secara mental saya sudah menjadi lebih siap. Sehingga, bebannya mungkin akan menjadi lebih ringan. Apakah anda juga demikian?

Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Jika kita berani menaiki sebuah kapal pesiar, maka pasti itu karena kita yakin bahwa kapal itu akan sampai dengan selamat ketempat tujuan. Namun, pasti kita akan merindukan sebuah sekoci jika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

4
Oct

FORGIVE AND FORGET

   Posted by: Wei   in motivation

FORGIVE AND FORGET

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir.
Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya.

Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas pasir :

HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi.

Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis disebuah batu :

HARI INI SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya diatas pasir, dan sekarang kamu menulis diatas batu ?”

Temannya sambil tersenyum menjawab :

“ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu.
Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya diatas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Belajarlah menulis diatas pasir.

Since we all need forgiveness, we should always be forgiving.

Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.
Efesus 4:32

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
Kolose 3:13

forgive and forget forgive and forget

Page 1 of 912345»...Last »