Doa Bapa Kami
Doa Bapa Kami adalah sebuah doa yang paling sering dinaikkan di dunia, dan doa ini sering disebut Doa Tuhan karena diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-NYA.
Banyak orang yang menaikkan doa ini tetapi tidak memahami makna, apa yang mereka katakan. Doa Bapa Kami ini sungguh-sungguh suatu doa yang lengkap.
| Karena itu berdoalah demikian:
Bapa kami yang di sorga,
Dikuduskanlah nama-Mu,
datanglah Kerajaan-Mu,
jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan
dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin. |
“In this manner, therefore, pray:
Our Father in heaven,
Hallowed be Your name.
Your kingdom come.
Your will be done On earth as [it is] in heaven.
Give us this day our daily bread.
And forgive us our debts,
As we forgive our debtors.
And do not lead us into temptation,
But deliver us from the evil one.
For Yours is the kingdom
and the power and the glory forever. Amen.
|
1. Semua doa harus dimulai dengan pujian dan pengangungan yan tepat kepada Bapa: “Bapa kami yang di surga, dipermuliakanlah nama-MU”
Bapa Kami, dua kata yang ditekankan oleh Tuhan Yesus, menggambarkan sifat yang Mahatinggi.
Kata-kata “Bapa Kami” juga memberikan alamat yang jelas dalam doa-doa kita. Permintaan kita - doa, permohonan, keinginan campur tangan ilahi - harus ditujukan kepada Bapa.
“Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-KU. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-NYA kepadamu dalam nama-KU”
(Yohanes 16:23)
Bapa adalah Pribadi yang disapa dalam permintaan-permintaan yang kita doakan. Kehendak dan jalan-NYA yang dicari, dan firman-NYA adalah janji yang kita pegang dalam mempercayai bahwa kita akan didengar.
Dan memohon kepada Bapa berarti mengakui hak-NYA untuk memerintah dan memutuskan dalam segala sesuatu.
2. Semua doa entah bagaimana harus memohon kehendak-NYA untuk terjadi di bumi: “Kerajaan-MU datanglah, kehendak-MU jadilah, di bumi seperti di surga.”
Allah yang kita sembah adalah Tuhan atas ciptaanNYA, dan kuasa-NYA tidak mengenal batas kecuali batas yang Ia tentukan bagi diri-NYA sendiri.
Ia menunggu untuk melakukan kehendak-NYA di bumi sebagai jawaban kepada orang-orang yang meminta.
Kerajaan-NYA, pemerintahan-NYA yang kekal hanya akan berkuasa di bumi bilamana Ia di undang. Itu bukan masalah kemampuan-NYA untuk berkuasa dengan kekuatan kehendak-NYA semata-mata, melainkan merupakan fakta bahwa berkaitan dengan bumi dan manusia. Ia memilih untuk membatasi diri-NYA pada saluran-salauran kerja tertentu. Ia berkehendak untuk bekerja sama dengan mitra kerja-NYA yaitu manusia.
Yesus berkata, jika Anda berdoa, dan setelah Anda datang kepada Bapa dengan penyembahan, mulailah memohon agar kehendak-NYA terjadi di bumi. Itulah satu-satunya jalan hal itu akan terjadi di sini (di bumi), ketika orang-orang yang menginginkan kehendak-NYA terjadi, mengatakan hal itu.
3. Allah menaruh perhatian pada kebutuhan sehari-hari, dan kita harus meminta hal itu: “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang sucukupnya.”
Pesannya jelas, kita harus memohon untuk masalah sehari-hari seperti halnya masalah-masalah kekal yang besar. Lita tidak boleh mengabaikan masalah kehidupan yang paling sederhana
“Bapamu yang di surga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu …, sebab itu janganlah kamu kuatir…”
(Matius 6:32, 34)
Walaupun Bapa di surga tahu, namun itu berarti Anda tidak boleh lupa memohon kepada-NYA untuk menyediakannya bagi Anda.
Dengan kasih karunia Allah, kita mulai menyadari bahwa pekerjaan tangan kita sendiri tidak mampu menyediakan apa-apa.
Bukan fakta bahwa Allah menentukan kita untuk malas, melainkan “Allah membantu orang yang menolong dirinya sendiri”
Dan pemahaman yang utuh tentang doa menuntun kita untuk berkonsultasi dengan Bapa tentang masalah dalam kehidupan yang paling kecil… yang sesungguhnya tanpa bisa dihindari akan menjadi yang terbesar jika diabaikan dalam doa.
4. Kita jangan mendekati Allah tanpa mengakui kebutuhan kita untuk disucikan: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami…”
Ia mengajarkan suatu cara berdoa yang mencakup pengakuan dosa. Karena Bapa akan mengampuni orang yang memohon hal itu.
Kristus tidak akan mengajarkan prioritas doa ini jika Bapa tidak memiliki kecenderungan untuk menerima orang-orang berdosa.
Seperti ayah anak yang hilang yang datang dengan pengakuan terbuka tentang kegagalannya. Bapa di surga menunggu permohonan kita untuk diampuni dan kemudian berkenan untuk menggunakan saat itu untuk membentangkan pesta kebaikkan-NYA dihadapan kita.
“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.”
(1 Yohanes 1:8)
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”
(1 YOhanes 1:9)
5. Kita juga tidak boleh mengabaikan Allah tentang hubugan: “… seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.
Yesus tidak menghendaki pendekatan vertikal kepada Allah yang tidak disertai dengan pendekatan horizontal kepada manusia.
Penekanan-NYA: pengampunan yang kita terima tergantung pada kesediaan kita untuk mengampuni. Jawaban yang kita terima dari DIA tergantung pada kehendak kita untuk menanggapi DIA.
IA tidak mengijinkan sikap tidak mau mengampuni tetap ada pada kita. Itu bukan sifat-NYA, jadi IA menentang hal itu ada dalam diri kita.
Jika saya tidak mengijinkan pengampunan yang saya terima mengalir lebih jauh untuk mengampuni orang-orang lain saya menghindari hubungan yang sejati.
6. Dan kita harus menetapkan kehendak kita untuk menuju kesempurnaan: “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”
“Jangan membawa kami masuk, tetapi bawalah kami keluar.” Makna perikop ini menyatakan bahwa kita memahami perintah Tuhan sebagai panggilan menuju kedewasaan.
Ia berkata, “Jika kamu berdoa, akuilah bahwa Bapa bukanlah penyebab masalahmu ketika pencobaan menghadang kamu, tetapi Ia adalah pelindungmu.”
Inilah proses pelepasan Allah yang memurnikan yang berkarya dalam hidup kita; pada masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
7. Semua Doa harus diakhiri dengan menempatkan segala sesuatu dalam tangan Allah: “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan Kuasa dan Kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”
Penyerahan diri - yang paling tepat ditunjukkan dengan mengangkat kedua tangan ke atas dan menunggu dengan tanpa daya dan memohon kemurahan-NYA - merupakan tindakan doa yang terbaik.
Doa bisa dipenuhi dengan iman, diucapkan dengan keberanian, dinaikkan dalam ketaatan, dan dipenuhi dengan pujian dan keyakinan. Namum, bagaimanapun juga, doa masih tergantung kepada-NYA.
Penyerahan diri ini menyatakan bahwa kita perlu mempelajari posisi yang akan menang, apapun yang akan terjadi.
Ia mengajarkan kita demikian, “Bagian penutup Anda yang terbaik adalah pernyataan tentang keagungan-NYA yang tidak pernah berubah. Setelah Anda menyembah dan memohon kemampuan yang terbaik yang dihasilkan Roh Kudus, serahkan semuanya kepada-NYA.”
Walaupun jawabannya mungkin tidak akan muncul seketika, seperti yang Anda bayangkan sebelumnya, atau diberikan pada saat yang Anda harapkan dalam pikiran Anda. Namun percayalah kepada-NYA. Segala kuasa dan kemuliaan adalah milik-NYA.
Dan Ia akan menjawab dengan cara-NYA dan pada waktu-NYA.
