»
S
I
D
E
B
A
R
«
Buatlah Panggung Kehidupan Anda Sendiri
Jul 15th, 2009 by mr Wei

Buatlah Panggung Kehidupan Anda Sendiri

“Dunia ini, panggung sandiwara; ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara, mengapa kita bersandiwara……”. Ini merupakan cuplikan bait lagu slow rock, yang pernah popular dinyanyikan oleh Ahmad Albar; personil band Gong 2000.

Jika kita telaah lebih jauh, bait lagu tersebut menunjukkan kepada kita semua; bahwa kehidupan di dunia ini seakan-akan sebuah kehidupan di dalam sebuah panggung pertunjukkan sandiwara atau drama. Sebuah panggung sandiwara, tentunya tak bisa lepas dari peranan sutradara dan skenario ceritanya. Kalau Anda terlibat masuk sebagai pemain di sebuah panggung sandiwara, maka Anda harus mengikuti petunjuk arahan sutradara dan isi cerita di dalam skenarionya itu.

Jika seorang artis bisa menghayati peran yang dimainkannya, maka peran itu terasa wajar, tetapi jika seorang artis tidak bisa menghayati atau menjiwai peran yang dibawakannya, maka peran tersebut kelihatan tidak wajar atau terlihat nyata kepura-puraannya dan bohongnya.

Seperti halnya sebuah panggung sandiwara; demikian pula yang terjadi di dalam kehidupan Anda sesungguhnya. Bedanya adalah: di dalam panggung sandiwara yang sebenarnya, Anda harus tunduk dan patuh kepada sutradara dan isi skenario cerita yang sudah dipersiapkan untuk Anda. Jika Anda melanggar pantangan-pantangan dari sutradara, atau Anda tidak bisa menghayati peran yang harus Anda mainkan; maka Anda pasti dipecat atau disingkirkan olehnya.

Tetapi lain halnya jika Anda berada di dalam panggung kehidupan Anda pribadi, maka yang menjadi penulis skenario cerita, pengatur lakunya dan sutradaranya adalah Anda sendiri, bukan orang lain. Kemudian Anda bisa mengambil peran yang ada di dalamnya sesuai dengan keinginan, skenario cerita Anda sendiri. Anda pun bisa mengatur perilaku kehidupan Anda sendiri.

Seperti halnya di panggung sandiwara, jika Anda di panggung kehidupan Anda sendiri terjadi pelanggaran- pelanggaran yang Anda lakukan, jika Anda tidak bisa menghayati peran yang telah Anda tulis sendiri, itu artinya Anda selalu berpura-pura dengan memakai “topeng” dalam kehidupan Anda; dengan kata lain Anda berperilaku dan bertindak tidak sesuai dengan skenario yang telah Anda tulis; maka Andapun bisa terdepak keluar dari panggung kehidupan Anda sendiri…Anda akan gagal menjalani kehidupan sebagaimana yang Anda inginkan.

Paling penting dipahami di sini adalah, dalam membuat “skenario cerita” kehidupan yang harus Anda jalani ini, semestinya Anda membuat jalan ceritanya dengan baik dan benar, yang tidak merugikan diri sendiri ataupun orang lain.

Buatlah skenario kehidupan Anda dengan bagus, sesuai dengan keinginan Anda; tetapi dengan tidak mengabaikan kepentingan orang lain. Anda boleh bebas membuat skenario cerita kehidupan apapun, yang ingin Anda jalani nantinya.

Kemudian Anda harus berusaha menghayati peran yang telah Anda tentukan sendiri itu, dengan cara Anda harus dengan sukarela meresapi peran Anda itu sampai benar-benar diterima dengan “ikhlas” oleh pikiran bawah sadar Anda. Satu hal lagi, Anda juga jangan mudah terpengaruh dengan situasi dan kondisi yang ada pada diri Anda saat itu; termasuk jangan terpengaruh dengan situasi dan kondisi lingkungan, pemerintahan, politik, ekonomi ataupun situasi negara saat itu. Apapun situasi dan kondisinya pada saat itu; janganlah mempengaruhi jalan cerita panggung kehidupan Anda.

Yang penting di sini adalah jadilah sutradara kehidupan Anda sendiri. Tetapkanlah skenario kehidupan Anda sendiri; kemudian jalanilah skenario cerita yang sudah Anda buat itu dengan sebaik-baiknya.

Jangan pernah menggantungkan kehidupan Anda pada orang lain, meskipun Anda berhak menjalin hubungan baik dengan sesama, tetapi Ingatlah! Jangan sampai hidup Anda bergantung kepada orang lain. Jadilah orang yang mandiri.

Kehidupan Anda adalah 100% tanggung jawab Anda sendiri.

Buatlah panggung kehidupan Anda sendiri dan meriahkanlah itu dengan cerita yang baik dan bagus sesuai keinginan dan tujuan hidup Anda. Ambilah sebuah sikap tegas dan benar terhadap panggung kehidupan Anda sendiri. Jangan pernah keluar dari alur cerita yang telah Anda rancang, atau Anda akan menyesal selamanya.

Salam Luar Biasa Prima!

    Panggung Sandiwara
    By Ahmad Albar / Nicky Astria

    Dunia ini panggung sandiwara
    Cerita yang mudah berubah
    Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
    Setiap kita dapat satu peranan
    Yang harus kita mainkan
    Ada peran wajar ada peran berpura pura

    Mengapa kita bersandiwara
    Mengapa kita bersandiwara

    Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
    Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
    Dunia ini penuh peranan
    Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

    Mengapa kita bersandiwara
    Mengapa kita bersandiwara

    Dunia ini penuh peranan
    Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

    Mengapa kita bersandiwara

wei Contributor : Wuryanano

Belajar disiplin ala Sun Tzu - The Art of War
Jun 15th, 2009 by mr Wei

the art of war, sun tzuSuatu ketika Sun Tzu dipanggil oleh kaisar dan Sun Tzu diminta untuk membuktikan teori-teorinya tentang kedisiplinan, “Coba buktikan teori-teorimu tentang kedisiplinan dengan mengatur selir-selirku, “ perintah Kaisar.

Sun Tzu tahu, Kaisar sangat pusing mengatur 150 selirnya yang tidak disiplin. Sun Tzu bersedia melakukan perintah Kaisar, syaratnya adalah Kaisar harus memberikan wewenang penuh kepada Sun Tzu untuk melakukan apa saja yang dianggapnya perlu. Kaisar yang sudah tiba pada puncak kepusingannya tak keberatan dengan syarat yang diminta.

Sun Tzu berpendapat bahwa disiplin itu bisa ditanamkan melalui pelajaran baris berbaris, ia pun tahu bahwa mengajar 150 selir sekaligus baris berbaris adalah sebuah kesulitan. Ia lalu memilih tiga selir yang paling dikasihi oleh Kaisar, ketiga orang itulah yang kemudian dididiknya secara khusus untuk menjadi pelatih baris berbaris.

Setelah dianggap cukup, ketiga selir itu dimintanya melatih pasukan selir yang telah dibagi menjadi tiga bagian. Dapat diduga, acara itu segera berubah menjadi kekacauan besar, ketiga pelatih maupun semua peserta hanya cekikikan di lapangan dan mereka sengaja membuat kesalahan-kesalah untuk meledakkan tawa yang lebih besar.

Sun Tzu lalu membubarkan barisan dan memanggail ketiga selir kesayangan Kaisar itu. “Begini, nyonya-nyonya, saya adalah orang yang percaya bahwa bila saya gagal menurunkan suatu ilmu, artinya saya yang tidak berhasil menjelaskannya dengan baik, karena itu, prosesnya harus saya ulangi sekali lagi”.
Lalu proses yang membosankan itu pun diulangi. Sun Tzu menyampaikan pelajarannya lebih lambat, sehingga terperinci, ketiga selir mengikuti pelajaran sambil menguap lebar-lebar dan sesekali berbisik-bisik dengan sesamanya.

Pelajaran baris berbaris utnuk semua selir pun diselenggarakan kembali. Persis sama dengan yang pertama, acara itu pun berantakan. Sun Tzu berkali-kali membubarkan barisan.

“Nyonya-Nyonya”, kata Sun Tzu dengan sabar, di depan tiga selir utama. “Kalau kekeliruan ternyata telah terjadi lagi, maka saya pikir kesalahannya terletak pada nyonya-nyonya dalam menyerap dan menyampaikan kembali pelajaran itu. Sekarang saya beri kesempatan sekali lagi kepada nyonya-nyonya untuk melatih baris-berbaris secara baik dan penuh disiplin, sementara itu bila ada hal-hal yang belum jelas, silahkan bertanya sekarang?”

Ternyata tak ada yang bertanya, ketiganya menyampaikan bahwa baris-berbaris adalah urusan yang gampang, mereka juga meremehkan Sun Tzu sambil menyanggupi bahwa esok pagi pasti pelajaran baris-berbaris akan berjalan lancar.

Esoknya terjadi kekacauan, Sun Tzu pun mengumpulkan ketiga selir utama, setelah membubarkan barisan, “Nyonya-Nyonya, berdasarkan teori siasat yang saya buat, bila tiga kali berturut-turut suatu hal gagal dilakukan, maka seseorang yang gagal harus dihukum pancung, karena itu besok di hadapan seluruh selir Kaisar, saya akan melaksanakan hukuman itu”.

Ketiga selir itu kaget, mereka lari menghadap kaisar untuk mengadukan Sun Tzu, Sun Tzu pun segera dipanggil menghadap, “Benarkah, Jenderal hendak memacung ketiga selir terkasih saya, “ kata Kaisar, “Benar, Paduka”.

“Saya minta Jenderal membatalkan niat itu, saya sangat mencintai mereka dan tak ingin kehilangan satu pun dari mereka.”

“Tetapi bukankah kaisar telah memberi wewenang kepada saya untuk mendisiplinkan ke 150 selir paduka.”

Kaisar akhirnya menyerah, ia tidak ingin mencabut wewenang yang telah didelegasikan kepada Jenderal Sun Tzu.

Besok paginya, kehebohan terjadi, Jenderal Sun Tzu memenggal leher jenjang ketiga selir elok itu di depan semua selir yang hadir lengkap. Lalu Sun Tzu berkata, “Sekarang saya akan memilih tiga orang lagi untuk menjadi pelatih baris-berbaris, akan saya berikan tiga kali kesempatan kepada mereka, untuk melatih baris-berbaris dengan baik, Bila gagal, nyonya-nyonya tahu apa yang akan saya lakukan.”

Sun Tzu berhasil, kaisar kini tak pusing dengan ke 147 selirnya yang masih hidup serta penuh disiplin, semuanya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan kaisar, Kaisar yang telah kehilangan tiga selir yang paling dikasihinya, tetapi ia masih memiliki 147 selir yang jauh lebih disayang.

Ini kisah benar-benar pernah terjadi di zaman Sun Tzu, salam antusias.

Intinya Bukan masalah pemacungannya yang merupakan perbuatan biadab, tetapi lebih kepada disiplin dan stategi untuk mencapai sukses. Para Naga sering menggunakan trik ini yaitu dengan adanya Reward and Punishment yang mendukung pencapaian tujuan. Semua ini merupakan proses yang harus dijalani untuk menuju sukses.

Salam Antusias.

wei Copyright © 2009 Contributor Yohanes Arifin

Strategi Sukses ala Sun Tzu - The Art of War
Jun 13th, 2009 by mr Wei

sun tzu, the art of warAda topik menarik yang dibawakan oleh Mr. Yang Kwang (guru Motivator saya di Tiongkok), dia berbicara dan bercerita tentang strategi-strategi Sun Tzu yang begitu tersohor dan sangat luar biasa, menurut cerita Buku The Art of War, karangan Sun Tzu itu sudah ditranslate ke hampir seluruh bahasa di dunia, wow luar biasa, namun kali ini Mr. Yang Kwang membawakan Strategi Perang Sun Tzu untuk meraih sukses.

Sun Tzu adalah seorang pengarang buku, yang diakui kemampuan kepemimpinannya oleh Raja Wu, Sun Tzu juga seorang penasehat, konsultan bagi berbagai pimpinan militer serta Kaisar.

Menurut Sun Tzu, kiat praktis untuk meraih sukses adalah :

1. Kenali Kekuatan dan Kelemahan pribadi Anda

Menurut Sun Tzu, tidak ada yang bisa memberitahukan kepada diri kita, siapa Anda sesungguhnya, kecuali diri kita sendiri, mereka hanya bisa membantu mencari tahu siapa Anda, selebihnya yang memberitahukan kepada diri kita, adalah diri kita sendiri.
Kita harus tau apa kekuatan/kelebihan dan kekurangan/kelemahan, kekuatan itu harus dipertahankan dan kekurangan itu harus dikurangkan kalau bisa kekurangan itu malah memacu diri kita untuk menjadi lebih baik.
Misalnya kalau kita tau kelemahan kita di bidang komunikasi, coba sering-seringlah untuk belajar mengenai ilmu komunikasi.

Cara yang paling mudah adalah :
- Buatlah SWOT analysis untuk diri kita sendiri, apa kekuatan, kelemahan, apa opportunity dan ancamannya.
- Setelah itu apa, jika kita melihat SWOT, apa yang bisa dikembangkan yang masih bisa dimaksimalkan di dalam diri kita

2. Integritas Moral

Integritas (Integrity) adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini.
Mempunyai moral yang terpuji, disiplin dan konsisten terus menerus di dalam pencapaian target dan impian.
Misalnya, tidak mau disogok atau melakukan tindakan Korupsi, dll.

3. Jadilah Pendengar yang baik

Mendengar dengan baik itu bisa dijadikan kebiasaan yang sangat baik.
Beberapa aturan dalam menyimak/mendengar :
- Ulangilah apa yang Anda dengar/mempertegas
- Hanya ajukan pertanyaan-pertanyaan, jika diminta
- Hargai pemikiran dan perasaan lawan bicara Anda
- Fokus pada kebutuhan lawan bicara Anda
- Bangunkan harga diri lawan bicara
- Awasi terhadap “pengganggu” dalam proses menyimak
- Pusatkan/konsentrasikan pada kegiatan mendengar tersebut.

Hal-hal inilah yang sering digunakan Sun Tzu dalam memberikan nasihat atau hal-hal yang membutuhkan jawaban dari Sun Tzu, termasuk kepada Kaisar, Sun Tzu lebih banyak menyimak, karena dia menghargai dan menghormati Kaisar, setelah diminta jawabannya oleh Kaisar, barulah si Sun Tzu memberikan nasihat.

4. Bersikaplah benar-benar dengan pertimbangan/perhitungan yang matang

Sun Tzu mengajarkan kepada kita, memperlakukan orang lain dengan baik adalah landasan bagi kita untuk meraih sukses, Sun Tzu walaupun seorang panglima besar, namun dia bisa memperlakukan dan menghargai orang lain dengan baik.
Walaupun tegas dan disiplin, kita harus bisa bersikap benar-benar untuk suatu perhitungan yang matang.

5. Bersikaplah Berani

Berani, adalah sikap yang harus ada di dalam diri kita, di zamannya, Sun Tzu memang seorang ahli strategi perang, di kehidupan sekarang bersikap berani, sangat diperlukan, contohnya dalam memulai bisnis, menghadapi risiko2 yang mungkin akan muncul, termasuk berani untuk mencoba hal-hal yang baru.

6. Latihlah disiplin

Menurut Sun Tzu semua prestasi yang besar, harus dimulai dari sikap disiplin, disiplin harus diibartkan sahabat, bukan musuh, disiplin membuat kita terus melakukan hal yang benar dan menempatkan di jalan yang tepat menuju ke sasaran.
Baca juga Catatan saya Sun Tzu dan Disiplin

7. Bersikap Kreatif dan penuh semangat

Kreatif sangatlah penting di jaman yang kompetitif ini, kreativitas akan timbul dari keinginan dan semangat yang berkobar di dalam diri kita.
Kita sering mendengar kata-kata “Cia You”, maksudnya Cia adalah tambah, You adalah minyak, jadi kalo api ditambah minyak terus menerus, apinya akan berkobar penuh semangat, begitu juga dalam diri kita untuk meraih sukses diperlukan kreatifitas dan semangat yang mengebu-ngebu.

8. Upayakan pencapaian standard yang lebih tinggi

Menurut Sun Tzu, Sukses bukanlah melakukan apa yang perlu dilakukan, tetapi sukses adalah “melampaui” apa yang perlu dilakukan, oleh karena itu buat standard yang lebih tinggi terus menerus, misalnya sudah tercapai x, buat x yang lainnya lebih tinggi lagi.

9. Carilah nasihat yang mantap

Sun Tzu dalam meraih keberhasilan perangnya juga membutuhkan orang lain, teman/sahabat, guru untuk berdiskusi, begitu juga dengan kita untuk meraih sukses harus mencari nasihat yang mantap dari orang yang kita anggap lebih pengalaman atau mentor kita.

Semoga kita bisa belajar dari Sun Tzu tentang Strategi Sukses yang sudah dipaparkan oleh guru motivasi saya, Mr. Yang Kwang (Motivator Tiongkok).

Salam Antusias.

wei Copyright © 2009 Contributor Yohanes Arifin

Tentang Motivasi
May 20th, 2009 by mr Wei

Tentang Motivasi
Oleh: Richwei
Latihan Menulis # 1
Sumber inspirasi: Jonru

“No one can guarantee your success, except yourself.”

penulis, belajar menulisMenjadi Penulis yang ternama seperti JK Rowling - penulis buku best seller “Harry Porter” adalah suatu hal yang sangat didambakan oleh Anda dan saya, sebagai penulis pemula.
Sebagai penulis pemula, Anda mungkin mempunyai bakat menulis yang luar biasa, yang belum digali hingga saat ini. Karena Anda belum mencobanya, dan baru akan mulai mencoba kemampuan atau bakat menulis tersebut. Memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis ternama seperti Dan Brown - penulis best seller “Da Vinci Code, dan Angels and Demons”, JK Rowling - penulis best seller “Harry Porter”, Rhonda Byrne - penulis best seller “The Secret” atau Radhitya Dika - penulis “Kambing Jantan”. Adalah suatu hal yang sangat baik, tetapi tanpa motivasi itu adalah hal yang sia-sia. Ibarat mimpi di siang bolong. Atau sama halnya ibarat sebuah mobil (entah mobil biasa maupun mobil termewah sekalipun) tanpa bensin.
Motivasi merupakan bensin di dalam aktivitas apapun. Motivasi adalah provokator sejati, yang memampukan seseorang melakukan apa saja untuk meraih impiannya, tanpa memusingkan kendala atau rintangan sebesar apapun yang ada di depan. Motivasi yang sangat kuat akan mempermudah jalan seseorang menuju sukses.
Di dunia ini, banyak penulis-penulis yang sangat berbakat, bahkan ada kemungkinan jauh lebih berbakat dari penulis-penulis di atas. Tetapi mereka tidak pernah menjadi terkenal karena di dalam perjalanannya mereka gugur dengan berbagai macam alasan.

Begitu banyak kendala yang menghadang di depan, tetapi sekali lagi seperti dikatakan di atas apabila motivasi sudah melekat kuat di dalam diri Anda, kendala sebesar apapun tidak dapat menghalangi Anda, bahkan tak akan ada artinya. Kendala terbesar justru datang diri kita sendiri. Dalam hal ini hanya kita sendirilah yang dapat mengatasinya.
Ada begitu banyak kendala yang menjadikan seorang penulis gugur di tengah jalan, dan gagal mengapai sukses yang diimpikannya. Karena di sini saya membicarakan tentang motivasi, maka saya akan menyebutkan penyakit-penyakit yang mematikan si provokator. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri dari si provokator yaitu mengobatinya - melawan semua penyakit-penyakit yang biasanya berasal dari diri kita sendiri (yang lebih dikenal dengan istilah kendala internal).

Penyakit internal seorang penulis pemula.

5 (lima) penyakit internal yang sering menjangkiti penulis pemula, yakni:

1. Takut ditolak

Dengan kata lain takut gagal.
Banyak dari penulis pemula, yang memiliki pola pikir dan mental yang salah saat ingin memulai langkah sukses yang diimpikannya. Mereka takut ditolak atau takut gagal. Perlu kita ketahui bahwa sudah menjadi suatu aturan tak tertulis di dunia ini bahwa segala jenis perjuangan manusia pasti mempunyai dua buah sisi atau resiko : Berhasil atau Gagal.
Untuk itu kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi keduanya. Tragisnya, begitu banyak orang yang siap untuk berhasil, tapi hanya sedikit yang siap untuk gagal.

“Bagaimana jika naskah yang telah kita buat ditolak oleh penerbit atau media ? Saya tidak mau kecewa, yang saya inginkan adalah saat menyerahkan naskah ke penerbit ataupun media mereka menerima serta menerbitkannya secepat mungkin. Pokoknya jangan sampai di tolak deh!”
Ini adalah gambaran dari orang yang takut gagal. Padahal kita sering mendengar sebuah pepatah “Kegagalan adalah kesusksesan yang tertunda”.

Rahasia keberhasilan seorang penulis besar adalah tidak takut akan adanya penolakan. Sebagai contoh kita lihat pengalaman penulis Jonru yang juga merupakan seoarang sahabat dan mentor, ketika merintis karir di bidang penulisan, Jonru memiliki “sasaran tembak utama” yaitu majalah (alm) Anita Cemerlang. Sebelum naskah pertamanya dimuat di majalah Anita Cermerlang, entah berapa cerpen yang beliau kirimkan ke redaksi majalah tersebut. Tapi ada satu hal yang menarik dari sikap Jonru, setelah mengirim naskah tersebut dia tidak memusingkannya. Tips yang Jonru berikan untuk Anda dan saya adalah jangan biarkan diri Anda menunggu, dan menunggu. Ini dapat mengakibatkan stress jika ambisi Anda tidak terpenuhi. Anggap naskah Anda sebagai barang yang hilang.

Sama halnya seperti penemu listrik Thomas Alva Edison yang telah bereksperimen ratusan kali, dan semuanya gagal. Tapi ia tidak mundur untuk melakukan percobaannya 1x lagi. Sehingga ia berhasil menemukan listrik. Bagaimana jadinya apabila, Thomas Alva Edison, berhenti untuk mencoba 1x lagi. Mungkin Anda dan saya tidak bisa menikmati malam-malam yang indah saat ini. Malam tanpa kita dapat menonton siaran TV, mendengarkan alunan musik dari radio, merasakan sejuknya pendingin ruangan maupun penghangat ruangan saat musim dingin, atau menyimpan makanan di dalam kulkas. Hidup kita akan menjadi gelap gulita di malam hari, dan sunyi sepi.

Tidak ada penulis instant yang tiba-tiba menjadi terkenal tanpa melalui proses di setiap keberhasilan yang diraihnya. Anda mungkin bosan mendengar pepatah “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Tapi percayalah itu adalah obat yang sangat ampuh untuk mengatasi ketakutan Anda.
Dan ingatlah, naskah yang ditolak belum tentu karena kualitasnya jelek. Bisa saja, naskah yang ditolak oleh media A, ternyata dimuat di media B. Mungkin naskah Anda tidak sesuai dengan visi dan misi dari media C. Ada banyak alasan media menolak naskah Anda dan “kualitas tulisan yang jelek” hanyalah satu di antaranya.

2. Minder

Kita sering mendengar ucapan “Saya ingin sekali menjadi penulis, dan sudah menulis beberapa naskah yang saya hasilkan. Tapi saya tidak mengirimkannya ke media massa, karena saya merasa karya saya itu semuanya jelek”, dari para penulis pemula. Baik di dalam pertemuan-pertemuan maupun pelatihan penulisan, juga di dalam milis-milis yang membahas penulisan.Tapi saya percaya Anda tidak berpikir seperti mereka.

Minder adalah penyakit yang paling sering menjangkiti para penulis muda, selain penyakit takut gagal, dan kedua penyakit ini menempati urutan teratas dari kelima penyakit internal tersebut.
Ada sebuah kalimat canda yang dilontarkan oleh Asma Nadia yang amat menggelitik, “Tak pernah ada ceritanya, seorang penulis mati bunuh diri hanya gara-gara kualitas naskahnya jelek.”

Ya, itu benar. Celaan akan Anda dengar jika naskah Anda sangat buruk, bahkan hinaan yang menyakitkan dan mematahkan semangat Anda untuk terus bertahan di dalam dunia tulis menulis ini. Seperti “Carilah aktvitas lain, tidak ada gunanya Anda menjadi penulis, Anda tidak berbakat, atau naskah Anda sangat-sangat buruk”. Tapi itu tidak akan pernah mencabut nyawa Anda, percayalah.

“Saya merasa naskah saya jelek.”
Ya, SAYA MERASA.
Itu hanya perasaan Anda. Tapi apakah naskah Anda benar-benar jelek atau justru sangat bagus? Anda tidak akan mengetahuinya sebelum Anda mencoba untuk mengirimkan naskah kepada teman-teman Anda, atau penulis yang senior (dimana Anda sangat mudah menemui mereka di dalam dunia maya ini. Dengan adanya internet dan juga forum-forum penulis yang banyak bertebaran, memudahkan Anda untuk mengirimkan naskah Anda kepada seorang penulis ternama yang belum Anda kenal secara pribadi), dan menunggu tanggapan dari mereka.

Jangan Anda menjadi kecewa dan putus asa ketika mereka memberikan jawaban “naskah Anda jelek”. Ada banyak kesempatan dan harapan besar untuk menjadi penulis besar dan ternama. Justru ini menjadikan suatu materi pembelajaran yang sangat baik. Anda dapat menanyakan kepada penulis senior maupun penulis ternama, “Di mana letak kejelekan naskah saya? Dan bagian mana yang harus saya perbaiki?” Jika mereka memberikan penjelasan yang memadai, saya percaya Anda dapat meningkatkan kualitas karya-karya Anda.

Jika mereka mengatakan naskah Anda bagus, jangan Anda mejadi terlena oleh pujian. Memang pujian adalah obat yang mujarab untuk mengatasi rasa minder. Tapi terlena oleh pujian merupakan penyakit tersendiri.
Tidak ada alasan untuk minder, mari kita lihat hikmahnya. Naskah Anda jelek atau bagus, kritikan dan pujian bisa kita jadikan sebagai obat mujarab untuk mengatasi penyakit minder itu.
Ingat bahwa hanya Anda yang dapat membuat keberhasilan Anda sendiri.

Lihatlah kenyataannya, banyak penulis-penulis ternama yang dulunya juga mengalami hal-hal yang serupa. Mereka tidak menyerah, malahan mereka menjadi semakin bersemangat karena mereka membiarkan diri dikuasai oleh rasa minder yang dapat menggerogoti impian mereka.

3. Membesar-besarkan Masalah

1001 alasan bisa Anda punyai untuk diutarakan guna membenarkan bahwa Anda ingin menjadi penulis, tapi banyak kendala yang menghalangi untuk memulainya.
Diantaranya yang sering kita dengar:

  • Saya adalah pekerja kantoran yang super sibuk, berangkat pagi pulang larut malam. Setiba di rumah, saya sudah lelah dan mengantuk. Lagipula saya harus mengurus tiga anak yang masih kecil.
  • Saat ini saya akan menghadapi ujian, jadi nanti saja setelah ujian saya selesai.
  • Bagaimana saya bisa menulis, saya tidak memiliki kemampuan di bidang tulis menulis.
  • Tempat saya tinggal sangat berisik, bagaimana saya bisa berkonsentrasi untuk menulis, lagipula saya tidak mempunyai komputer untuk mengetik naskah.

Ada saja yang dapat kita jadikan alasan untuk tidak memulai menulis. Tapi apakah itu suatu alasan yang kuat ? Mari kita lihat fakta berikut ini:

  • Gola Gong adalah seorang penulis bertangan satu.
  • Jonru, ketika merintis karir di bidang penulisan, ia tidak mempunyai mesin tik bahkan belum mengenal komputer pada saat itu. Tetapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk memulai menulis. Jonru menulisnya dengan tangan, lalu mengetikkan naskahnya di biro jasa pengetikan.

Mulailah untuk menulis, teman !. “Kendala sebesar apapun tak akan ada artinya apabila di dalam diri kita telah tertanam motivasi yang kuat.” Bukan hanya Anda dan saya yang mengalami kendala seperti di atas, John Grisham, dan Putu Wijaya pun mengalami hal yang serupa.

Masihkah Anda mempermasalahkan masalah-masalah tersebut? Hadirkanlah motivasi di hati Anda, maka semua masalah di atas tak akan ada artinya sama sekali. Temukanlah suatu inspirasi atau kiat-kiat yang dapat mendorong Anda untuk mulai menulis.

Jadi bagaimana solusinya? Sebenarnya Anda sudah mengetahui jawabannya. Tidak perlu ragu, jangan perdulikan permasalahan yang merintangi. Langsung saja menulis. Ini adalah hal suatu hal yang sangat-sangat mudah untuk Anda lakukan!

4. Dikritik Lalu Mati

Beberapa orang sangat antusias menjadi penulis yang ternama pada mulanya. Ketika mereka meminta saran dan kritik kepada penulis senior. Banyak dari mereka mendapati jawabanan bahwa kualitas tulisananya memang belum terlalu baik. Dan penulis senior tersebut meminta untuk direvisi.
Mereka pun merevisinya, dan mengirimkan naskah tersebut untuk saran dan kritik dari penulis senior tadi. Dan mereka mendapat jawaban yang sama. Kini, banyak dari mereka itu hilang entah ke mana, sepertinya mereka tidak pernah menulis naskah lagi.

Jika Anda sama seperti orang kebanyakan, maka ijinkanlah saya memberikan suatu rahasia, yang dapat mengukuhkan Anda untuk tetap menulis. Pernahkah Anda berpikir bahwa sebenarnya para penulis senior adalah orang-orang yang sangat mencintai Anda dan saya, mereka ingin agar Anda dan saya berhasil menjadi seorang penulis yang ternama.
Jika si pengritik tidak mencintai Anda maka ia tidak akan susah-susah untuk membaca, menganalisa dan memberikan saran untuk perbaikan di dalam tulisan Anda.

Ada istilah yang pernah Anda dengar, “Mau berhasilkah atau gagal, emang gua pikirin”

Mengapa mereka mau malakukan pekerjaan yang merepotkan ini? Apa yang dia cari sesungguhnya? Uang? Atau dia sedang mencari muka pada Anda.
Jika Anda bukan siapa-siapa, sebenarnya si pengkritik itu sangat cinta, ia menaruh perhatian atas bakat dan semangat menulis Anda. Ia ingin agar Anda menjadi penulis yang sukses.

Apakah Anda akan mengecewakan orang-orang yang mencintai Anda ? Tentu tidak. Tetap nyalakan api semangat menulis Anda seperti api Olympiade. Walaupun orang mengatakan naskah Anda sangat jelek, memuakkan, bahkan mengatakan Anda sangat tidak tahu diri karena masih nekat menjadi penulis, saya yakin Anda tidak akan peduli sama sekali.

5. Tidak Sabaran

Impian setiap penulis, termasuk saya adalah:
Hari ini menulis, lalu mengirimkan naskah tersebut, besok sudah diterbitkan, lusa penjualan buku tersebut meledak dan hari ketiga nama Anda / saya terpampang di seluruh media massa dengan judul berita “Luar biasa, telah lahir seorang penulis muda, mencapai hit best seller hanya dalam waktu 1 malam !”.

Bangunlah dari impian, dan bersikaplah realistis. Tidak ada seorang anak yang lahir dari rahim ibunya, langsung menjadi besar hanya dalam 1 malam. Tak ada kesuksesan yang diraih dalam satu atau dua hari. Bahkan penulis sekaliber dunia seperti JK Rowling, dan juga Dan Brown.

Kita mengenal mereka ketika buku-buku mereka menjadi best seller di seluruh dunia. Tetapi apakah kita mengenal mereka sebelumnya? Apa Anda mengetahui kegiatan mereka sehari-hari?
Saya yakin Anda tidak mengenal mereka ketika mereka belum mencapai puncak kejayaan. Bagaimana mereka melalui jalan menuju kesuksesan mereka. Rintangan apa yang mereka lalui. Semua kesuksesan pasti perlu proses. Jika hari ini semua naskah Anda masih ditolak, percayalah bahwa ini hanya maslah waktu.

Jadi, kenapa harus tidak sabaran? Semua itu perlu proses.

6. Malas Berusaha

Penyakit ini bisa melanda siapa saja dan dibidang apa saja. Ini bukanlah penyakit khusus para cara penulis.

Teman, kesuksesan tidak akan menghampiri seorang pemalas. Menjadi sukses dibutuhkan usaha yang konsisten, sertatekad yang kuat.
Banyak penulis yang engan untuk mengetik naskahnya, tetapi bisa berjam-jam menikmati tayangan sinetron di televisi. Atau bemain game online, chating, facebooking berjam-jam. Bahkan alasan “Lagi tidak mood untuk menulis”, dibuat untuk mengistirahatkan dirinya untuk tidak menulis hingga berhari-hari.

“Tips jitu untuk menjadi seorang penulis adalah langsung praktek menulis, menulis, dan menulis”, kata Helvy Tiana Rosa. Jadikan menulis menjadi bagian dari gaya hidup Anda, menulislah setiap hari, jangan lewatkan satu hari pun tanpa menulis. Tidak peduli apakah naskah tersebut pendek atau panjang, bagus atau tidak. “Menulis setiap hari” bukan berarti Anda harus menulis cerpen ataupun novel. Anda bisa menulis satu paragraf, satu bab, atau sesuka yang Anda mau. Yang terpenting , menulislah setiap hari.

Jangan jadikan menulis sebagai suatu hobi, karena hobi dapat ditinggalkan saat pekerjaan utama menanti Anda. Kalau Anda benar-benar ingin menjadi seorang penulis, jadikan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi. Katakan pada diri Anda, “Saya seorang penulis!” dengan penuh percaya diri !.

wei Sumber: “Tentang Motivasi by Jonru” © Belajarmenulis

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa
© www.WeiHongOei.com | Powerby WEI