Tentang Motivasi
Oleh: Richwei
Latihan Menulis # 1
Sumber inspirasi: Jonru
“No one can guarantee your success, except yourself.”
Menjadi Penulis yang ternama seperti JK Rowling - penulis buku best seller “Harry Porter” adalah suatu hal yang sangat didambakan oleh Anda dan saya, sebagai penulis pemula.
Sebagai penulis pemula, Anda mungkin mempunyai bakat menulis yang luar biasa, yang belum digali hingga saat ini. Karena Anda belum mencobanya, dan baru akan mulai mencoba kemampuan atau bakat menulis tersebut. Memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis ternama seperti Dan Brown - penulis best seller “Da Vinci Code, dan Angels and Demons”, JK Rowling - penulis best seller “Harry Porter”, Rhonda Byrne - penulis best seller “The Secret” atau Radhitya Dika - penulis “Kambing Jantan”. Adalah suatu hal yang sangat baik, tetapi tanpa motivasi itu adalah hal yang sia-sia. Ibarat mimpi di siang bolong. Atau sama halnya ibarat sebuah mobil (entah mobil biasa maupun mobil termewah sekalipun) tanpa bensin.
Motivasi merupakan bensin di dalam aktivitas apapun. Motivasi adalah provokator sejati, yang memampukan seseorang melakukan apa saja untuk meraih impiannya, tanpa memusingkan kendala atau rintangan sebesar apapun yang ada di depan. Motivasi yang sangat kuat akan mempermudah jalan seseorang menuju sukses.
Di dunia ini, banyak penulis-penulis yang sangat berbakat, bahkan ada kemungkinan jauh lebih berbakat dari penulis-penulis di atas. Tetapi mereka tidak pernah menjadi terkenal karena di dalam perjalanannya mereka gugur dengan berbagai macam alasan.
Begitu banyak kendala yang menghadang di depan, tetapi sekali lagi seperti dikatakan di atas apabila motivasi sudah melekat kuat di dalam diri Anda, kendala sebesar apapun tidak dapat menghalangi Anda, bahkan tak akan ada artinya. Kendala terbesar justru datang diri kita sendiri. Dalam hal ini hanya kita sendirilah yang dapat mengatasinya.
Ada begitu banyak kendala yang menjadikan seorang penulis gugur di tengah jalan, dan gagal mengapai sukses yang diimpikannya. Karena di sini saya membicarakan tentang motivasi, maka saya akan menyebutkan penyakit-penyakit yang mematikan si provokator. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri dari si provokator yaitu mengobatinya - melawan semua penyakit-penyakit yang biasanya berasal dari diri kita sendiri (yang lebih dikenal dengan istilah kendala internal).
Penyakit internal seorang penulis pemula.
5 (lima) penyakit internal yang sering menjangkiti penulis pemula, yakni:
1. Takut ditolak
Dengan kata lain takut gagal.
Banyak dari penulis pemula, yang memiliki pola pikir dan mental yang salah saat ingin memulai langkah sukses yang diimpikannya. Mereka takut ditolak atau takut gagal. Perlu kita ketahui bahwa sudah menjadi suatu aturan tak tertulis di dunia ini bahwa segala jenis perjuangan manusia pasti mempunyai dua buah sisi atau resiko : Berhasil atau Gagal.
Untuk itu kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi keduanya. Tragisnya, begitu banyak orang yang siap untuk berhasil, tapi hanya sedikit yang siap untuk gagal.
“Bagaimana jika naskah yang telah kita buat ditolak oleh penerbit atau media ? Saya tidak mau kecewa, yang saya inginkan adalah saat menyerahkan naskah ke penerbit ataupun media mereka menerima serta menerbitkannya secepat mungkin. Pokoknya jangan sampai di tolak deh!”
Ini adalah gambaran dari orang yang takut gagal. Padahal kita sering mendengar sebuah pepatah “Kegagalan adalah kesusksesan yang tertunda”.
Rahasia keberhasilan seorang penulis besar adalah tidak takut akan adanya penolakan. Sebagai contoh kita lihat pengalaman penulis Jonru yang juga merupakan seoarang sahabat dan mentor, ketika merintis karir di bidang penulisan, Jonru memiliki “sasaran tembak utama” yaitu majalah (alm) Anita Cemerlang. Sebelum naskah pertamanya dimuat di majalah Anita Cermerlang, entah berapa cerpen yang beliau kirimkan ke redaksi majalah tersebut. Tapi ada satu hal yang menarik dari sikap Jonru, setelah mengirim naskah tersebut dia tidak memusingkannya. Tips yang Jonru berikan untuk Anda dan saya adalah jangan biarkan diri Anda menunggu, dan menunggu. Ini dapat mengakibatkan stress jika ambisi Anda tidak terpenuhi. Anggap naskah Anda sebagai barang yang hilang.
Sama halnya seperti penemu listrik Thomas Alva Edison yang telah bereksperimen ratusan kali, dan semuanya gagal. Tapi ia tidak mundur untuk melakukan percobaannya 1x lagi. Sehingga ia berhasil menemukan listrik. Bagaimana jadinya apabila, Thomas Alva Edison, berhenti untuk mencoba 1x lagi. Mungkin Anda dan saya tidak bisa menikmati malam-malam yang indah saat ini. Malam tanpa kita dapat menonton siaran TV, mendengarkan alunan musik dari radio, merasakan sejuknya pendingin ruangan maupun penghangat ruangan saat musim dingin, atau menyimpan makanan di dalam kulkas. Hidup kita akan menjadi gelap gulita di malam hari, dan sunyi sepi.
Tidak ada penulis instant yang tiba-tiba menjadi terkenal tanpa melalui proses di setiap keberhasilan yang diraihnya. Anda mungkin bosan mendengar pepatah “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”. Tapi percayalah itu adalah obat yang sangat ampuh untuk mengatasi ketakutan Anda.
Dan ingatlah, naskah yang ditolak belum tentu karena kualitasnya jelek. Bisa saja, naskah yang ditolak oleh media A, ternyata dimuat di media B. Mungkin naskah Anda tidak sesuai dengan visi dan misi dari media C. Ada banyak alasan media menolak naskah Anda dan “kualitas tulisan yang jelek” hanyalah satu di antaranya.
2. Minder
Kita sering mendengar ucapan “Saya ingin sekali menjadi penulis, dan sudah menulis beberapa naskah yang saya hasilkan. Tapi saya tidak mengirimkannya ke media massa, karena saya merasa karya saya itu semuanya jelek”, dari para penulis pemula. Baik di dalam pertemuan-pertemuan maupun pelatihan penulisan, juga di dalam milis-milis yang membahas penulisan.Tapi saya percaya Anda tidak berpikir seperti mereka.
Minder adalah penyakit yang paling sering menjangkiti para penulis muda, selain penyakit takut gagal, dan kedua penyakit ini menempati urutan teratas dari kelima penyakit internal tersebut.
Ada sebuah kalimat canda yang dilontarkan oleh Asma Nadia yang amat menggelitik, “Tak pernah ada ceritanya, seorang penulis mati bunuh diri hanya gara-gara kualitas naskahnya jelek.”
Ya, itu benar. Celaan akan Anda dengar jika naskah Anda sangat buruk, bahkan hinaan yang menyakitkan dan mematahkan semangat Anda untuk terus bertahan di dalam dunia tulis menulis ini. Seperti “Carilah aktvitas lain, tidak ada gunanya Anda menjadi penulis, Anda tidak berbakat, atau naskah Anda sangat-sangat buruk”. Tapi itu tidak akan pernah mencabut nyawa Anda, percayalah.
“Saya merasa naskah saya jelek.”
Ya, SAYA MERASA.
Itu hanya perasaan Anda. Tapi apakah naskah Anda benar-benar jelek atau justru sangat bagus? Anda tidak akan mengetahuinya sebelum Anda mencoba untuk mengirimkan naskah kepada teman-teman Anda, atau penulis yang senior (dimana Anda sangat mudah menemui mereka di dalam dunia maya ini. Dengan adanya internet dan juga forum-forum penulis yang banyak bertebaran, memudahkan Anda untuk mengirimkan naskah Anda kepada seorang penulis ternama yang belum Anda kenal secara pribadi), dan menunggu tanggapan dari mereka.
Jangan Anda menjadi kecewa dan putus asa ketika mereka memberikan jawaban “naskah Anda jelek”. Ada banyak kesempatan dan harapan besar untuk menjadi penulis besar dan ternama. Justru ini menjadikan suatu materi pembelajaran yang sangat baik. Anda dapat menanyakan kepada penulis senior maupun penulis ternama, “Di mana letak kejelekan naskah saya? Dan bagian mana yang harus saya perbaiki?” Jika mereka memberikan penjelasan yang memadai, saya percaya Anda dapat meningkatkan kualitas karya-karya Anda.
Jika mereka mengatakan naskah Anda bagus, jangan Anda mejadi terlena oleh pujian. Memang pujian adalah obat yang mujarab untuk mengatasi rasa minder. Tapi terlena oleh pujian merupakan penyakit tersendiri.
Tidak ada alasan untuk minder, mari kita lihat hikmahnya. Naskah Anda jelek atau bagus, kritikan dan pujian bisa kita jadikan sebagai obat mujarab untuk mengatasi penyakit minder itu.
Ingat bahwa hanya Anda yang dapat membuat keberhasilan Anda sendiri.
Lihatlah kenyataannya, banyak penulis-penulis ternama yang dulunya juga mengalami hal-hal yang serupa. Mereka tidak menyerah, malahan mereka menjadi semakin bersemangat karena mereka membiarkan diri dikuasai oleh rasa minder yang dapat menggerogoti impian mereka.
3. Membesar-besarkan Masalah
1001 alasan bisa Anda punyai untuk diutarakan guna membenarkan bahwa Anda ingin menjadi penulis, tapi banyak kendala yang menghalangi untuk memulainya.
Diantaranya yang sering kita dengar:
- Saya adalah pekerja kantoran yang super sibuk, berangkat pagi pulang larut malam. Setiba di rumah, saya sudah lelah dan mengantuk. Lagipula saya harus mengurus tiga anak yang masih kecil.
- Saat ini saya akan menghadapi ujian, jadi nanti saja setelah ujian saya selesai.
- Bagaimana saya bisa menulis, saya tidak memiliki kemampuan di bidang tulis menulis.
- Tempat saya tinggal sangat berisik, bagaimana saya bisa berkonsentrasi untuk menulis, lagipula saya tidak mempunyai komputer untuk mengetik naskah.
Ada saja yang dapat kita jadikan alasan untuk tidak memulai menulis. Tapi apakah itu suatu alasan yang kuat ? Mari kita lihat fakta berikut ini:
- Gola Gong adalah seorang penulis bertangan satu.
- Jonru, ketika merintis karir di bidang penulisan, ia tidak mempunyai mesin tik bahkan belum mengenal komputer pada saat itu. Tetapi itu tidak menghentikan langkahnya untuk memulai menulis. Jonru menulisnya dengan tangan, lalu mengetikkan naskahnya di biro jasa pengetikan.
Mulailah untuk menulis, teman !. “Kendala sebesar apapun tak akan ada artinya apabila di dalam diri kita telah tertanam motivasi yang kuat.” Bukan hanya Anda dan saya yang mengalami kendala seperti di atas, John Grisham, dan Putu Wijaya pun mengalami hal yang serupa.
Masihkah Anda mempermasalahkan masalah-masalah tersebut? Hadirkanlah motivasi di hati Anda, maka semua masalah di atas tak akan ada artinya sama sekali. Temukanlah suatu inspirasi atau kiat-kiat yang dapat mendorong Anda untuk mulai menulis.
Jadi bagaimana solusinya? Sebenarnya Anda sudah mengetahui jawabannya. Tidak perlu ragu, jangan perdulikan permasalahan yang merintangi. Langsung saja menulis. Ini adalah hal suatu hal yang sangat-sangat mudah untuk Anda lakukan!
4. Dikritik Lalu Mati
Beberapa orang sangat antusias menjadi penulis yang ternama pada mulanya. Ketika mereka meminta saran dan kritik kepada penulis senior. Banyak dari mereka mendapati jawabanan bahwa kualitas tulisananya memang belum terlalu baik. Dan penulis senior tersebut meminta untuk direvisi.
Mereka pun merevisinya, dan mengirimkan naskah tersebut untuk saran dan kritik dari penulis senior tadi. Dan mereka mendapat jawaban yang sama. Kini, banyak dari mereka itu hilang entah ke mana, sepertinya mereka tidak pernah menulis naskah lagi.
Jika Anda sama seperti orang kebanyakan, maka ijinkanlah saya memberikan suatu rahasia, yang dapat mengukuhkan Anda untuk tetap menulis. Pernahkah Anda berpikir bahwa sebenarnya para penulis senior adalah orang-orang yang sangat mencintai Anda dan saya, mereka ingin agar Anda dan saya berhasil menjadi seorang penulis yang ternama.
Jika si pengritik tidak mencintai Anda maka ia tidak akan susah-susah untuk membaca, menganalisa dan memberikan saran untuk perbaikan di dalam tulisan Anda.
Ada istilah yang pernah Anda dengar, “Mau berhasilkah atau gagal, emang gua pikirin”
Mengapa mereka mau malakukan pekerjaan yang merepotkan ini? Apa yang dia cari sesungguhnya? Uang? Atau dia sedang mencari muka pada Anda.
Jika Anda bukan siapa-siapa, sebenarnya si pengkritik itu sangat cinta, ia menaruh perhatian atas bakat dan semangat menulis Anda. Ia ingin agar Anda menjadi penulis yang sukses.
Apakah Anda akan mengecewakan orang-orang yang mencintai Anda ? Tentu tidak. Tetap nyalakan api semangat menulis Anda seperti api Olympiade. Walaupun orang mengatakan naskah Anda sangat jelek, memuakkan, bahkan mengatakan Anda sangat tidak tahu diri karena masih nekat menjadi penulis, saya yakin Anda tidak akan peduli sama sekali.
5. Tidak Sabaran
Impian setiap penulis, termasuk saya adalah:
Hari ini menulis, lalu mengirimkan naskah tersebut, besok sudah diterbitkan, lusa penjualan buku tersebut meledak dan hari ketiga nama Anda / saya terpampang di seluruh media massa dengan judul berita “Luar biasa, telah lahir seorang penulis muda, mencapai hit best seller hanya dalam waktu 1 malam !”.
Bangunlah dari impian, dan bersikaplah realistis. Tidak ada seorang anak yang lahir dari rahim ibunya, langsung menjadi besar hanya dalam 1 malam. Tak ada kesuksesan yang diraih dalam satu atau dua hari. Bahkan penulis sekaliber dunia seperti JK Rowling, dan juga Dan Brown.
Kita mengenal mereka ketika buku-buku mereka menjadi best seller di seluruh dunia. Tetapi apakah kita mengenal mereka sebelumnya? Apa Anda mengetahui kegiatan mereka sehari-hari?
Saya yakin Anda tidak mengenal mereka ketika mereka belum mencapai puncak kejayaan. Bagaimana mereka melalui jalan menuju kesuksesan mereka. Rintangan apa yang mereka lalui. Semua kesuksesan pasti perlu proses. Jika hari ini semua naskah Anda masih ditolak, percayalah bahwa ini hanya maslah waktu.
Jadi, kenapa harus tidak sabaran? Semua itu perlu proses.
6. Malas Berusaha
Penyakit ini bisa melanda siapa saja dan dibidang apa saja. Ini bukanlah penyakit khusus para cara penulis.
Teman, kesuksesan tidak akan menghampiri seorang pemalas. Menjadi sukses dibutuhkan usaha yang konsisten, sertatekad yang kuat.
Banyak penulis yang engan untuk mengetik naskahnya, tetapi bisa berjam-jam menikmati tayangan sinetron di televisi. Atau bemain game online, chating, facebooking berjam-jam. Bahkan alasan “Lagi tidak mood untuk menulis”, dibuat untuk mengistirahatkan dirinya untuk tidak menulis hingga berhari-hari.
“Tips jitu untuk menjadi seorang penulis adalah langsung praktek menulis, menulis, dan menulis”, kata Helvy Tiana Rosa. Jadikan menulis menjadi bagian dari gaya hidup Anda, menulislah setiap hari, jangan lewatkan satu hari pun tanpa menulis. Tidak peduli apakah naskah tersebut pendek atau panjang, bagus atau tidak. “Menulis setiap hari” bukan berarti Anda harus menulis cerpen ataupun novel. Anda bisa menulis satu paragraf, satu bab, atau sesuka yang Anda mau. Yang terpenting , menulislah setiap hari.
Jangan jadikan menulis sebagai suatu hobi, karena hobi dapat ditinggalkan saat pekerjaan utama menanti Anda. Kalau Anda benar-benar ingin menjadi seorang penulis, jadikan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi. Katakan pada diri Anda, “Saya seorang penulis!” dengan penuh percaya diri !.
Sumber: “Tentang Motivasi by Jonru” © Belajarmenulis