»
S
I
D
E
B
A
R
«
Empat Skenario Yang Ironis
Nov 22nd, 2009 by mr Wei

Empat Skenario Yang Ironis

Skenario 1

Andaikan kita sedang naik di dalam sebuah kereta ekonomi.
Karena tidak mendapatkan tempat duduk, kita berdiri di dalam gerbong tersebut.
Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi kita untuk menggoyang-goyangkan kaki.

Kita tidak menyadari handphone kita terjatuh.

Ada orang yang melihatnya, memungutnya dan langsung mengembalikannya kepada kita.

“Pak, handphone bapak barusan jatuh nih,” kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik kita.

Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

    Skenario 2

    Sekarang kita beralih kepada skenario kedua.
    Handphone kita terjatuh dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya.
    Orang itu tahu handphone itu milik kita tetapi tidak langsung memberikannya kepada kita.

    Hingga tiba saatnya kita akan turun dari kereta, kita baru menyadari handphone kita hilang.

    Sesaat sebelum kita turun dari kereta, orang itu ngembalikan handphone kita sambil berkata, “Pak, handphone bapak barusan jatuh nih.”

    Apa yang akan kita lakukan kepada orang tersebut?

    Mungkin kita akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut.
    Rasa terima kasih yang kita berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang kita berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada kita).

    Setelah itu mungkin kita akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

Marilah kita beralih kepada skenario ketiga.

Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, hingga kita menyadari handphone kita tidak ada di kantong kita saat kita sudah turun dari kereta.

Kita pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone kita, berharap ada orang baik yang menemukan handphone kita dan bersedia mengembalikannya kepada kita.

Orang yang sejak tadi menemukan handphone kita (namun tidak memberikannya
kepada kita) menjawab telepon kita.

“Halo, selamat siang, Pak. Saya pemilik handphone yang ada pada bapak sekarang,” kita mencoba bicara kepada orang yang sangat kita harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada kita.

Orang yang menemukan handphone kita berkata,

“Oh, ini handphone bapak ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar bapak ambil di sana nanti ya.”

Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, kita pun pergi ke stasiun berikut dan menemui “orang baik” tersebut.

Orang itu pun memberikan handphone kita yang telah hilang.

Apa yang akan kita lakukan pada orang tersebut?

Satu hal yang pasti, kita akan mengucapkan terima kasih, dan seperti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih kita pada skenario kedua bukan?
Bukan tidak mungkin kali ini kita akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone kita tersebut.

    Skenario 4

    Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat.

    Pada skenario ini, kita tidak sadar handphone kita terjatuh, kita turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone kita telah hilang, kita mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat.
    Sampai akhirnya kita tiba di rumah.

    Malam harinya, kita mencoba mengirimkan SMS :
    “Bapak / Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak / ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak / ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya.
    Saya akan memberikan imbalan sepantasnya. ”

    SMS pun dikirim dan tidak ada balasan.

    Kita sudah putus asa.

    Kita kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone kita.
    Ada begitu banyak nomor telepon teman kita yang ikut hilang bersamanya.

    Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone kita menjawab SMS kita, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut.

    Bagaimana kira-kira perasaan kita?

    Tentunya kita akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu.
    Kita pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone kita.

    Apa yang akan kita berikan kepada orang tersebut?

    Kita pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin kita akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin kita berikan di skenario ketiga).

Moral

Apa yang kita dapatkan dari empat skenario cerita di atas?

Pada keempat skenario tersebut, kita sama-sama kehilangan handphone, dan ada
orang yang menemukannya.

Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada kita.Kita berikan dia ucapan terima kasih.

Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada kita sesaat sebelum kita turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar.

Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada kita setelah kita turun dari kereta.
Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah.

Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada kita.

Kita berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini.

Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik?

Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada kita, bukan?
Dia adalah orang pada skenario pertama.

Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik?

Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat kita menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone kita tersebut selama itu.

Namun, ternyata dia adalah orang yang akan kita berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

Kita memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, kita berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu?

Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario.

Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali.

Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta.

Pada skenario ketiga, kita sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama kita mendapatkan kelegaan dan harapan kita akan mendapatkan handphone kita kembali.

Pada skenario keempat, kita sangat merasakan kehilangan itu.
Kita mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone kita, asalkan handphone itu bisa kembali kepada kita.

Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan kita semakin menghargai handphone
yang kita miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang kita syukuri?

Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain.

Namun, apakah yang akan terjadi apabila segalanya hilang dari genggaman kita.

Kita pasti akan merasakan kehilangan yang luar biasa.

Saat itulah, kita baru dapat mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur?

Sebaiknya tidak.

Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada.

Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah lenyap dari diri kita.

Jangan pernah mengeluh dengan segala hal yang belum diperoleh.

Bahagialah dengan segala hal yang telah diperoleh.

Sesungguhnya, hidup ini berisikan banyak kebahagiaan.

Bila kita mampu memandang dari sudut yang benar.

wei

Rules of Pygmalion - Rules of Positive Thinking
May 23rd, 2009 by mr Wei

positive thinkingOnce upon a time, Pygmalion sculpted a lady figure from a very smooth ivory. The sculpture had exact human size. When finished, the sculpture looked like authentic woman. The face showed cunning smile, its body was fabulous. Friends of Pygmalion said, “No matter how beautiful it is; statue is just a statue, not your wife.”

However, Pygmalion treated it as if it had been real human being. Many times it was gazed and brushed gently.

Gods at Mount Olympus watched him and be glad about Pygmalion’s action. Then they decided to give miracle to Pygmalion by giving the sculpture a life. Afterward, Pygmalion lived happily ever after with his wife that was rumored as the most beautiful girl in the whole Greece.

The name Pygmalion is memorable until now to picture out the effect of positive thinking. If we can think positively about a condition or someone, oftentimes the result is actually a positive one.

    * If we behave kindly towards other people, then they will treat us kindly as well.

    * If we treat our children as clever children, at the end, they will truly become clever people for sure.

    * If we are certain that our efforts will work, then that effort will be half of the success.

That effect of positive thinking is called Pygmalion Effect.

Our thoughts sometimes have the effect to fulfill prophecy either positively or negatively.

* If we address our neighbor as grumpy so that we don’t want to befriend him/her, then he/she will be grumpy for sure.

* If we distrust and deem our children to be dishonest, then they will become dishonest for sure.

* If we are desperate and feel unable to accomplish at the beginning of an effort, that it has a big chance that we will truly fail.

Pygmalion’s way of thinking is to think, infer, and hope positively towards a condition or someone.

Imagine how big the effects if we have positive way of thinking like Pygmalion’s. We will not prejudice towards other people.

We do not hearsay negative rumors about somebody else. We do not guess negatively about somebody else.

If we think negatively about someone else, there are always substantial to presume bad things. When a friend gives a present to us, clearly it is a good deed. However, if we think negatively, we will distrust him/her, saying, “Maybe he is trying to persuade”, or growling, “Ha, the present is low-priced.”

The red-inked side is us. We become easier to distrust someone. We become gloomy.

On the other hand, if we think positively, we will accept the present with joy and thankfulness, saying, “He is very generous. Although he is busy, he remembers to give us present.”

The color of our life indeed depends on the color of our glasses we are using.

If we use grayish glasses, we will see everything in grey. Life will become gloomy and grim. But if we wear bright glasses, everything will look bright.
Glasses of distrust or hatred will make our life suspicious and lustful. But if we use glasses of peace, we will live in peace.

    Life is better when we perceive it from a positive side. Think positively on ourselves.
    Think positively on other people.
    Think positively on every condition.
    Think positively on the God.
    The effect of positive thinking will be felt.
    Family will become warm.
    Our friends will become trustworthy.
    Our neighbor will become friendly.
    Our job will become joyful.
    The world will become kind.
    Life will become beautiful, like Pygmalion’s.

MAKE SURE YOU ARE PYGMALION and the world will be filled with positive people only……..
HOW NICE!!

wei

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa
© www.WeiHongOei.com | Powerby WEI