»
S
I
D
E
B
A
R
«
Belajar disiplin ala Sun Tzu - The Art of War
Jun 15th, 2009 by mr Wei

the art of war, sun tzuSuatu ketika Sun Tzu dipanggil oleh kaisar dan Sun Tzu diminta untuk membuktikan teori-teorinya tentang kedisiplinan, “Coba buktikan teori-teorimu tentang kedisiplinan dengan mengatur selir-selirku, “ perintah Kaisar.

Sun Tzu tahu, Kaisar sangat pusing mengatur 150 selirnya yang tidak disiplin. Sun Tzu bersedia melakukan perintah Kaisar, syaratnya adalah Kaisar harus memberikan wewenang penuh kepada Sun Tzu untuk melakukan apa saja yang dianggapnya perlu. Kaisar yang sudah tiba pada puncak kepusingannya tak keberatan dengan syarat yang diminta.

Sun Tzu berpendapat bahwa disiplin itu bisa ditanamkan melalui pelajaran baris berbaris, ia pun tahu bahwa mengajar 150 selir sekaligus baris berbaris adalah sebuah kesulitan. Ia lalu memilih tiga selir yang paling dikasihi oleh Kaisar, ketiga orang itulah yang kemudian dididiknya secara khusus untuk menjadi pelatih baris berbaris.

Setelah dianggap cukup, ketiga selir itu dimintanya melatih pasukan selir yang telah dibagi menjadi tiga bagian. Dapat diduga, acara itu segera berubah menjadi kekacauan besar, ketiga pelatih maupun semua peserta hanya cekikikan di lapangan dan mereka sengaja membuat kesalahan-kesalah untuk meledakkan tawa yang lebih besar.

Sun Tzu lalu membubarkan barisan dan memanggail ketiga selir kesayangan Kaisar itu. “Begini, nyonya-nyonya, saya adalah orang yang percaya bahwa bila saya gagal menurunkan suatu ilmu, artinya saya yang tidak berhasil menjelaskannya dengan baik, karena itu, prosesnya harus saya ulangi sekali lagi”.
Lalu proses yang membosankan itu pun diulangi. Sun Tzu menyampaikan pelajarannya lebih lambat, sehingga terperinci, ketiga selir mengikuti pelajaran sambil menguap lebar-lebar dan sesekali berbisik-bisik dengan sesamanya.

Pelajaran baris berbaris utnuk semua selir pun diselenggarakan kembali. Persis sama dengan yang pertama, acara itu pun berantakan. Sun Tzu berkali-kali membubarkan barisan.

“Nyonya-Nyonya”, kata Sun Tzu dengan sabar, di depan tiga selir utama. “Kalau kekeliruan ternyata telah terjadi lagi, maka saya pikir kesalahannya terletak pada nyonya-nyonya dalam menyerap dan menyampaikan kembali pelajaran itu. Sekarang saya beri kesempatan sekali lagi kepada nyonya-nyonya untuk melatih baris-berbaris secara baik dan penuh disiplin, sementara itu bila ada hal-hal yang belum jelas, silahkan bertanya sekarang?”

Ternyata tak ada yang bertanya, ketiganya menyampaikan bahwa baris-berbaris adalah urusan yang gampang, mereka juga meremehkan Sun Tzu sambil menyanggupi bahwa esok pagi pasti pelajaran baris-berbaris akan berjalan lancar.

Esoknya terjadi kekacauan, Sun Tzu pun mengumpulkan ketiga selir utama, setelah membubarkan barisan, “Nyonya-Nyonya, berdasarkan teori siasat yang saya buat, bila tiga kali berturut-turut suatu hal gagal dilakukan, maka seseorang yang gagal harus dihukum pancung, karena itu besok di hadapan seluruh selir Kaisar, saya akan melaksanakan hukuman itu”.

Ketiga selir itu kaget, mereka lari menghadap kaisar untuk mengadukan Sun Tzu, Sun Tzu pun segera dipanggil menghadap, “Benarkah, Jenderal hendak memacung ketiga selir terkasih saya, “ kata Kaisar, “Benar, Paduka”.

“Saya minta Jenderal membatalkan niat itu, saya sangat mencintai mereka dan tak ingin kehilangan satu pun dari mereka.”

“Tetapi bukankah kaisar telah memberi wewenang kepada saya untuk mendisiplinkan ke 150 selir paduka.”

Kaisar akhirnya menyerah, ia tidak ingin mencabut wewenang yang telah didelegasikan kepada Jenderal Sun Tzu.

Besok paginya, kehebohan terjadi, Jenderal Sun Tzu memenggal leher jenjang ketiga selir elok itu di depan semua selir yang hadir lengkap. Lalu Sun Tzu berkata, “Sekarang saya akan memilih tiga orang lagi untuk menjadi pelatih baris-berbaris, akan saya berikan tiga kali kesempatan kepada mereka, untuk melatih baris-berbaris dengan baik, Bila gagal, nyonya-nyonya tahu apa yang akan saya lakukan.”

Sun Tzu berhasil, kaisar kini tak pusing dengan ke 147 selirnya yang masih hidup serta penuh disiplin, semuanya berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan kaisar, Kaisar yang telah kehilangan tiga selir yang paling dikasihinya, tetapi ia masih memiliki 147 selir yang jauh lebih disayang.

Ini kisah benar-benar pernah terjadi di zaman Sun Tzu, salam antusias.

Intinya Bukan masalah pemacungannya yang merupakan perbuatan biadab, tetapi lebih kepada disiplin dan stategi untuk mencapai sukses. Para Naga sering menggunakan trik ini yaitu dengan adanya Reward and Punishment yang mendukung pencapaian tujuan. Semua ini merupakan proses yang harus dijalani untuk menuju sukses.

Salam Antusias.

wei Copyright © 2009 Contributor Yohanes Arifin

Strategi Sukses ala Sun Tzu - The Art of War
Jun 13th, 2009 by mr Wei

sun tzu, the art of warAda topik menarik yang dibawakan oleh Mr. Yang Kwang (guru Motivator saya di Tiongkok), dia berbicara dan bercerita tentang strategi-strategi Sun Tzu yang begitu tersohor dan sangat luar biasa, menurut cerita Buku The Art of War, karangan Sun Tzu itu sudah ditranslate ke hampir seluruh bahasa di dunia, wow luar biasa, namun kali ini Mr. Yang Kwang membawakan Strategi Perang Sun Tzu untuk meraih sukses.

Sun Tzu adalah seorang pengarang buku, yang diakui kemampuan kepemimpinannya oleh Raja Wu, Sun Tzu juga seorang penasehat, konsultan bagi berbagai pimpinan militer serta Kaisar.

Menurut Sun Tzu, kiat praktis untuk meraih sukses adalah :

1. Kenali Kekuatan dan Kelemahan pribadi Anda

Menurut Sun Tzu, tidak ada yang bisa memberitahukan kepada diri kita, siapa Anda sesungguhnya, kecuali diri kita sendiri, mereka hanya bisa membantu mencari tahu siapa Anda, selebihnya yang memberitahukan kepada diri kita, adalah diri kita sendiri.
Kita harus tau apa kekuatan/kelebihan dan kekurangan/kelemahan, kekuatan itu harus dipertahankan dan kekurangan itu harus dikurangkan kalau bisa kekurangan itu malah memacu diri kita untuk menjadi lebih baik.
Misalnya kalau kita tau kelemahan kita di bidang komunikasi, coba sering-seringlah untuk belajar mengenai ilmu komunikasi.

Cara yang paling mudah adalah :
- Buatlah SWOT analysis untuk diri kita sendiri, apa kekuatan, kelemahan, apa opportunity dan ancamannya.
- Setelah itu apa, jika kita melihat SWOT, apa yang bisa dikembangkan yang masih bisa dimaksimalkan di dalam diri kita

2. Integritas Moral

Integritas (Integrity) adalah bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini.
Mempunyai moral yang terpuji, disiplin dan konsisten terus menerus di dalam pencapaian target dan impian.
Misalnya, tidak mau disogok atau melakukan tindakan Korupsi, dll.

3. Jadilah Pendengar yang baik

Mendengar dengan baik itu bisa dijadikan kebiasaan yang sangat baik.
Beberapa aturan dalam menyimak/mendengar :
- Ulangilah apa yang Anda dengar/mempertegas
- Hanya ajukan pertanyaan-pertanyaan, jika diminta
- Hargai pemikiran dan perasaan lawan bicara Anda
- Fokus pada kebutuhan lawan bicara Anda
- Bangunkan harga diri lawan bicara
- Awasi terhadap “pengganggu” dalam proses menyimak
- Pusatkan/konsentrasikan pada kegiatan mendengar tersebut.

Hal-hal inilah yang sering digunakan Sun Tzu dalam memberikan nasihat atau hal-hal yang membutuhkan jawaban dari Sun Tzu, termasuk kepada Kaisar, Sun Tzu lebih banyak menyimak, karena dia menghargai dan menghormati Kaisar, setelah diminta jawabannya oleh Kaisar, barulah si Sun Tzu memberikan nasihat.

4. Bersikaplah benar-benar dengan pertimbangan/perhitungan yang matang

Sun Tzu mengajarkan kepada kita, memperlakukan orang lain dengan baik adalah landasan bagi kita untuk meraih sukses, Sun Tzu walaupun seorang panglima besar, namun dia bisa memperlakukan dan menghargai orang lain dengan baik.
Walaupun tegas dan disiplin, kita harus bisa bersikap benar-benar untuk suatu perhitungan yang matang.

5. Bersikaplah Berani

Berani, adalah sikap yang harus ada di dalam diri kita, di zamannya, Sun Tzu memang seorang ahli strategi perang, di kehidupan sekarang bersikap berani, sangat diperlukan, contohnya dalam memulai bisnis, menghadapi risiko2 yang mungkin akan muncul, termasuk berani untuk mencoba hal-hal yang baru.

6. Latihlah disiplin

Menurut Sun Tzu semua prestasi yang besar, harus dimulai dari sikap disiplin, disiplin harus diibartkan sahabat, bukan musuh, disiplin membuat kita terus melakukan hal yang benar dan menempatkan di jalan yang tepat menuju ke sasaran.
Baca juga Catatan saya Sun Tzu dan Disiplin

7. Bersikap Kreatif dan penuh semangat

Kreatif sangatlah penting di jaman yang kompetitif ini, kreativitas akan timbul dari keinginan dan semangat yang berkobar di dalam diri kita.
Kita sering mendengar kata-kata “Cia You”, maksudnya Cia adalah tambah, You adalah minyak, jadi kalo api ditambah minyak terus menerus, apinya akan berkobar penuh semangat, begitu juga dalam diri kita untuk meraih sukses diperlukan kreatifitas dan semangat yang mengebu-ngebu.

8. Upayakan pencapaian standard yang lebih tinggi

Menurut Sun Tzu, Sukses bukanlah melakukan apa yang perlu dilakukan, tetapi sukses adalah “melampaui” apa yang perlu dilakukan, oleh karena itu buat standard yang lebih tinggi terus menerus, misalnya sudah tercapai x, buat x yang lainnya lebih tinggi lagi.

9. Carilah nasihat yang mantap

Sun Tzu dalam meraih keberhasilan perangnya juga membutuhkan orang lain, teman/sahabat, guru untuk berdiskusi, begitu juga dengan kita untuk meraih sukses harus mencari nasihat yang mantap dari orang yang kita anggap lebih pengalaman atau mentor kita.

Semoga kita bisa belajar dari Sun Tzu tentang Strategi Sukses yang sudah dipaparkan oleh guru motivasi saya, Mr. Yang Kwang (Motivator Tiongkok).

Salam Antusias.

wei Copyright © 2009 Contributor Yohanes Arifin

»  Substance: WordPress   »  Style: Ahren Ahimsa
© www.WeiHongOei.com | Powerby WEI